MPR dan BRIN Ajak Pemuda Karimunjawa Tangani Sampah Plastik
MPR dan BRIN Ajak Pemuda Karimunjawa Atasi Sampah Plastik

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam Karimunjawa. Menurutnya, kerusakan alam tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan dan pariwisata.

Bimbingan Teknis Pengelolaan Sampah Plastik

Hal tersebut disampaikan Lestari dalam sambutannya pada acara Bimbingan Teknis Pengelolaan Sampah Plastik di Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Acara ini menghadirkan perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Faizinal Abidin, sebagai narasumber.

Di hadapan seratus pemuda pegiat sampah, perempuan yang akrab disapa Rarie ini mengungkapkan bahwa Karimunjawa merupakan salah satu kawasan konservasi laut terpenting di Indonesia. Saat ini, kawasan tersebut menghadapi tantangan besar dalam mengelola sampah plastik seiring meningkatnya aktivitas wisata.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kawasan Konservasi yang Terancam

Menurut Rarie, kawasan seluas lebih dari 111 ribu hektare tersebut memiliki kekayaan ekosistem laut yang luar biasa. Terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove di sana menjadi sumber kehidupan utama masyarakat setempat.

"Pengelolaan sampah sesungguhnya bukan hanya urusan lingkungan. Ini juga urusan ekonomi, kesehatan, dan masa depan masyarakat pesisir. Karena itu, kita membutuhkan perubahan perilaku dan gerakan bersama," tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/6/2026).

Tantangan Unik Karimunjawa

Rarie menilai, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Karimunjawa memang menjadi kabar baik bagi perekonomian warga. Namun, peningkatan aktivitas manusia tersebut juga berbanding lurus dengan peningkatan volume sampah.

Anggota Komisi X DPR RI ini menegaskan bahwa persoalan sampah plastik telah menjadi masalah global. Data Program Lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan dunia menghasilkan lebih dari 400 juta ton sampah plastik setiap tahun, dengan sekitar 11 juta ton di antaranya masuk ke laut.

Legislator asal daerah pemilihan (dapil) II Jawa Tengah ini menyebut, Karimunjawa menghadapi tantangan lingkungan yang cukup unik. Sebab, sampah yang mencemari wilayah ini tidak hanya berasal dari aktivitas masyarakat dan wisatawan, tetapi juga sampah kiriman yang terbawa arus laut dari berbagai pesisir Pulau Jawa. Kondisi ini membuat masyarakat memikul beban ganda.

Pembekalan bagi Pemuda

Melalui kegiatan Bimtek ini, peserta dibekali ilmu mengenai pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, pengembangan bank sampah, hingga pemanfaatan limbah menjadi bernilai ekonomi. Menutup arahannya, Rerie meyakini Karimunjawa memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi contoh nasional dalam hal pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Tradisi gotong royong yang hidup di tengah masyarakat pulau menjadi kekuatan penting dalam membangun budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan," tambahnya.

Komitmen BRIN

Sementara itu, perwakilan BRIN Faizinal Abidin menegaskan komitmen lembaganya dalam menghadirkan hasil riset yang aplikatif untuk masyarakat. Bimtek di Karimunjawa ini menjadi salah satu bentuk diseminasi hasil penelitian BRIN agar langsung menyentuh persoalan warga.

"BRIN memiliki banyak hasil inovasi aplikatif di bidang pengelolaan lingkungan dan pelestarian pesisir. Tantangan kita bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata," ujar Faizinal.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga