Menag: Dakwah Jangan Tanamkan Kebencian, Harus Perkuat Persatuan
Menag: Dakwah Jangan Tanamkan Kebencian, Harus Perkuat Persatuan

Menag: Banyak Orang Ajarkan Agama tapi Tanam Kebencian ke Pemeluk Agama Lain

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahaya dakwah yang menanamkan kebencian terhadap pemeluk agama lain. Dia menegaskan dakwah harus menjadi sarana memperkuat persatuan, bukan memecah belah masyarakat. Hal itu disampaikan Nasaruddin dalam Tabligh Akbar di Masjid Baitul Izzah, Provinsi Bengkulu, Jumat (24/4/2026). Menurutnya, masih ada praktik penyampaian ajaran agama yang secara sadar maupun tidak justru menumbuhkan sikap intoleran.

“Banyak orang, sadar atau tidak, ketika mengajarkan agama justru menanamkan kebencian terhadap pemeluk agama lain. Jika itu terjadi, tentu tidak sesuai dengan kondisi Indonesia sebagai negara yang sangat plural,” ujar Nasaruddin.

Dia menekankan bahwa nilai-nilai agama seharusnya menjadi fondasi dalam membangun kehidupan yang harmonis dan damai di tengah keberagaman. Sebagai negara majemuk, Indonesia membutuhkan pendekatan keagamaan yang mengedepankan toleransi dan saling menghormati. “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkokoh persatuan. Nilai-nilai keagamaan harus menjadi fondasi dalam membangun kehidupan yang harmonis dan damai,” katanya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ajak Masyarakat Introspeksi Diri

Nasaruddin Umar kemudian mengajak masyarakat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri sebagai upaya meningkatkan kualitas keimanan. Dia menjelaskan, kualitas keislaman seseorang memiliki tingkatan yang harus terus diupayakan, yakni fasik, awam, ahlul thoa, ahlul ibadah, hingga ahlullah. Menurutnya, fasik adalah mereka yang mengaku Muslim namun tidak menjalankan kewajiban, sedangkan awam merujuk pada mereka yang sudah mulai beribadah, tetapi belum konsisten dan masih sebatas formalitas. “Di atasnya ada ahlul thoa, yang sudah mulai disiplin dalam ibadah, namun masih merasa terbebani. Lalu ada ahlul ibadah, yang menjalankan ibadah karena cinta kepada Allah,” ujar Nasaruddin. Dia menambahkan, tingkat tertinggi adalah ahlullah, yakni mereka yang telah mencapai kecintaan penuh kepada Allah. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi membedakan antara ibadah wajib dan sunnah serta tidak menghitung-hitung amal yang dilakukan. “Semoga kita semua bisa terus naik dari satu tingkat ke tingkat berikutnya dalam kualitas keislaman kita,” ucapnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga