Menteri LH: Kunci Atasi Sampah Kalsel Berawal dari Pemilahan di Rumah Tangga
Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Menteri LH/Kepala BPLH) Hanif Faisol Nurofiq terus mendorong percepatan transformasi pengelolaan sampah nasional melalui penguatan pendekatan berbasis sumber di berbagai daerah. Dalam upaya ini, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi salah satu fokus utama untuk mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Pentingnya Pemilahan Sampah dari Hulu
Hanif menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari hulu, dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pemilahan dan pengurangan sampah. "Permasalahan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pola kumpul-angkut-buang. Kuncinya ada di hulu, yaitu pemilahan sejak dari rumah tangga agar beban pengelolaan dapat berkurang secara signifikan," ujar Hanif, dikutip dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup pada Selasa, 21 April 2026.
Dia mengungkapkan bahwa di Kota Banjarbaru, timbulan sampah mencapai sekitar 184 ton per hari, sementara yang terkelola baru sekitar 12 persen. Kondisi ini menunjukkan perlunya percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber untuk menekan volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Gerakan KILAU EMAS untuk Perubahan Perilaku
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Hanif menekankan penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui gerakan Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas (KILAU EMAS). Gerakan ini menargetkan pemilahan sampah secara masif di tingkat rumah tangga, dengan jumlah lebih dari 90 ribu kepala keluarga di Banjarbaru.
Menurut Hanif, pendekatan ini menjadi kunci dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas sistem pengelolaan sampah. "Jika pemilahan dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga, volume sampah yang tidak terkelola dapat ditekan secara signifikan dan berdampak langsung pada kualitas lingkungan," terang dia pada acara Hari Jadi ke-27 Tahun Kota Banjarbaru.
Peningkatan Kapasitas Sistem Pengelolaan Sampah
Selain penguatan di tingkat masyarakat, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Hanif menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan, termasuk:
- Optimalisasi TPS3R dan bank sampah
- Perluasan layanan pengangkutan sampah
- Penguatan peran sektor usaha seperti hotel, restoran, dan kafe (HOREKA)
- Penguatan sistem monitoring dan evaluasi berbasis kinerja untuk memastikan efektivitas implementasi di lapangan
Potensi Kolaborasi Lintas Sektor di Kalimantan Selatan
Dalam mendukung percepatan transformasi pengelolaan sampah, Hanif menyebutkan bahwa Kalimantan Selatan memiliki potensi kolaborasi yang kuat. Kolaborasi ini melibatkan perangkat daerah, 595 Ketua RT, ratusan penyuluh dan pendamping keluarga, serta dukungan perguruan tinggi melalui keterlibatan mahasiswa dalam program tematik lingkungan hidup.
Hanif menilai kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam membangun perubahan perilaku masyarakat secara luas dan berkelanjutan. "Kita membutuhkan keterlibatan semua pihak, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi, untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan," paparnya.
Dia menambahkan bahwa upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menargetkan peningkatan kinerja pengelolaan sampah melalui pengurangan dari sumber serta penguatan sistem pengolahan terpadu. Pemerintah meyakini bahwa melalui langkah yang konsisten dan kolaborasi yang kuat, transformasi pengelolaan sampah di Kalimantan Selatan dapat menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari gerakan ini, Hanif juga memimpin aksi bersih bersama di Pasar Martapura untuk mendorong gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) sebagai budaya sehari-hari bagi masyarakat Kalimantan Selatan.



