Jajan Disebut Penyelamat Ekonomi Indonesia dari Kebangkrutan
Jajan Disebut Penyelamat Ekonomi Indonesia dari Kebangkrutan

Akun X @kar********* memicu perbincangan hangat warganet setelah mengunggah cuitan yang menyebut bahwa kebiasaan "jajan" atau membeli jajanan masyarakat Indonesia adalah salah satu penyelamat ekonomi nasional. Dalam unggahan pada Sabtu (18/7/2026), akun tersebut secara terang-terangan menyatakan bahwa tanpa aktivitas jajan, Indonesia bisa bangkrut.

"Indonesia tanpa tukang jajan kayak kita sih udah bangkrut," tulisnya. "Gue serius guys, bangkrut kalo pada gak jajan."

Unggahan itu tidak berhenti di situ. Akun tersebut kemudian mencontohkan periode kelam ekonomi Jepang yang dikenal sebagai Japan's Lost Decade pada era 1990-an untuk mengilustrasikan betapa pentingnya konsumsi masyarakat terhadap perekonomian suatu negara.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Analogi Jepang dan Lost Decade

Dalam cuitannya, akun itu menjelaskan bahwa pada 1990-an, gelembung aset properti dan saham di Jepang pecah. Masyarakat dan perusahaan di Negeri Sakura pun panik. Alih-alih terus berbelanja, mereka justru memilih menabung secara ekstrem dan fokus melunasi utang. Ketakutan untuk mengeluarkan uang membuat konsumsi rumah tangga merosot tajam.

"Mereka jadi takut banget ngeluarin duit buat konsumsi. Efeknya? Pertumbuhan ekonomi Jepang cuma mentok di 0-1% doang selama lebih dari 10 tahun," lanjut unggahan tersebut.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana penurunan konsumsi dapat memicu stagnasi ekonomi yang berkepanjangan. Kondisi itu, menurut akun tersebut, bahkan lebih sulit disembuhkan dibandingkan inflasi. Inflasi masih bisa dikendalikan lewat kebijakan moneter, sementara stagnasi yang sudah mengakar membutuhkan waktu pemulihan yang jauh lebih lama.

Jajan Sebagai Budaya dan Penopang Ekonomi

Di Indonesia, jajan bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari jajanan pasar, camilan di kantor, hingga minuman kekinian yang banyak digemari anak muda. Aktivitas ini memang terlihat sepele, namun jika dilakukan oleh jutaan orang setiap hari, dampaknya bagi perekonomian sangat besar.

Pernyataan yang disampaikan akun tersebut sejalan dengan teori ekonomi makro yang menempatkan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu komponen utama dalam penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB). Di banyak negara, termasuk Indonesia, konsumsi rumah tangga biasanya menyumbang porsi terbesar dalam PDB. Dengan kata lain, aktivitas belanja masyarakat yang dilakukan secara rutin—sekecil apa pun, termasuk membeli jajanan—secara agregat dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Ketika masyarakat berbondong-bondong mengurangi pengeluaran, permintaan barang dan jasa menurun. Produsen pun ikut merasakan dampaknya: pendapatan berkurang, ekspansi terhambat, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi melambat. Inilah yang dalam cuitan tersebut disebut sebagai "penggerak roda ekonomi negara."

Stagnasi Lebih Menakutkan daripada Inflasi?

Salah satu poin menarik dalam unggahan tersebut adalah klaim bahwa kondisi ekonomi yang stagnan lebih sulit disembuhkan dibandingkan inflasi. Dalam ilmu ekonomi, inflasi dapat direspons oleh bank sentral dengan menaikkan suku bunga untuk mendinginkan ekonomi. Sementara itu, stagnasi berkepanjangan sering kali membutuhkan intervensi fiskal dan struktural yang kompleks.

Contoh Jepang menjadi pelajaran berharga. Meskipun pemerintah dan bank sentral Jepang telah melakukan berbagai upaya, pertumbuhan ekonomi negeri itu tetap lamban dalam waktu yang lama. Pengalaman Jepang ini kerap dijadikan bahan diskusi oleh para ekonom ketika membahas risiko deflasi dan perangkap likuiditas.

Pesan di Balik Cuitan

Di akhir unggahannya, akun tersebut menyampaikan pesan dengan nada santai namun mengena. Ia mengajak netizen untuk menjawab kritik yang kerap dialamatkan kepada para penggemar jajan.

"Jadi kalo ada yang bilang, 'jajan mulu lu pasti banyak duit', jawab aja 'GINI-GINI GW PENGGERAK RODA EKONOMI NEGARA'," tulisnya.

Unggahan ini langsung menuai beragam tanggapan di media sosial. Sebagian warganet merasa terhibur dengan sudut pandang tersebut, sementara yang lain ikut berdiskusi tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara menabung dan berbelanja. Terlepas dari pro dan kontra, cuitan ini berhasil menyoroti peran aktivitas konsumsi—yang sering dianggap sepele—dalam perekonomian nasional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Meski hanya berupa opini di media sosial, narasi seperti ini mengingatkan bahwa kebiasaan sehari-hari, seperti jajan, memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas. Di tengah upaya pemulihan ekonomi, dorongan untuk tetap berbelanja secara bijak menjadi salah satu kunci agar roda perekonomian terus berputar.