Video yang beredar di media sosial menghadirkan narasi yang menyebut Presiden Prabowo Subianto marah karena Gedung DPR RI dibakar massa. Dalam video tersebut, Prabowo digambarkan mengatakan bahwa aksi pembakaran gedung DPR merupakan bentuk makar. Namun, penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com menunjukkan bahwa narasi itu keliru dan perlu diluruskan.
Penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com
Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri unggahan yang memuat video tersebut. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa video itu diambil pada tahun 2025 dan tidak memiliki kaitan dengan klaim soal Gedung DPR RI dibakar. Dengan demikian, konteks dalam video asli berbeda jauh dari narasi yang disebarkan di media sosial.
Narasi yang beredar tampaknya sengaja memanfaatkan potongan video lama untuk membangun persepsi yang salah. Prabowo dalam video tersebut tidak sedang menyinggung peristiwa pembakaran gedung DPR sama sekali. Faktanya, hingga saat ini tidak ada satu pun peristiwa pembakaran Gedung DPR RI yang terjadi.
Fakta di Balik Video yang Beredar
Menurut Tim Cek Fakta Kompas.com, video yang beredar sudah diedit atau diberi keterangan ulang sehingga menimbulkan makna yang menyesatkan. Masyarakat perlu memahami bahwa konten seperti ini kerap digunakan untuk memicu kegaduhan politik. Pengunggah memanfaatkan momen tertentu agar video terlihat relevan dengan isu hangat yang sedang berkembang.
Video asli yang diambil pada 2025 itu tidak menyebutkan atau merekam adanya aksi pembakaran gedung DPR. Klaim bahwa Prabowo menyebut pembakaran tersebut sebagai makar juga tidak didukung oleh bukti dalam video yang utuh. Tim Cek Fakta Kompas.com menegaskan bahwa tidak ada sumber kredibel yang mengonfirmasi peristiwa pembakaran Gedung DPR RI.
Imbauan agar Tidak Mudah Percaya Hoaks
Maraknya penyebaran hoaks di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Video dan narasi yang tidak sesuai fakta dapat dengan mudah viral jika tidak diperiksa kebenarannya. Karena itu, penting untuk selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau membagikan informasi.
Tim Cek Fakta Kompas.com mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh konten yang mengandung klaim ekstrem, terlebih yang berkaitan dengan tokoh nasional atau institusi negara. Periksa sumber asli, bandingkan dengan pemberitaan dari media kredibel, dan waspadai konten yang memanfaatkan potongan video di luar konteks.
Hoaks semacam ini tidak hanya merugikan tokoh yang difitnah, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas informasi publik. Dengan memahami fakta yang sebenarnya, diharapkan publik tidak ikut menyebarkan narasi yang salah dan dapat menjaga suasana kondusif di ruang digital.



