Cancel Culture Menggema di Media Sosial Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual
Cancel Culture Menggema Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual

Cancel Culture Menggema di Media Sosial Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual

Ramainya sorotan terhadap kasus yang diduga menyeret nama Mohan Hazian telah memunculkan istilah cancel culture secara luas di berbagai platform media sosial. Fenomena ini berkembang pesat setelah munculnya dugaan kuat terkait tindakan pelecehan seksual yang diarahkan kepada pemilik brand clothing tersebut.

Asal Muasal Kasus dari Utas Anonim

Dugaan pelecehan seksual yang menuju ke Mohan berawal dari sebuah utas yang diunggah oleh akun anonim dengan identitas @a*********. Utas tersebut dengan cepat menyebar dan menarik perhatian ribuan warganet, memicu gelombang diskusi dan kecaman yang intens.

Membaca cerita yang diungkap dalam utas itu, tak sedikit warganet yang langsung menilai bahwa owner brand clothing tersebut layak untuk di-cancel. Mereka menyuarakan tuntutan agar Mohan mempertanggungjawabkan tindakannya dan menghadapi konsekuensi sosial.

Eskalasi Narasi Setelah Pembatalan Konferensi Pers

Narasi cancel culture semakin meluas dan menguat setelah Mohan mengambil langkah untuk membatalkan konferensi pers yang sebelumnya dijadwalkan. Alih-alih menghadapi media secara langsung, ia memilih untuk mengeluarkan pernyataan tertulis sebagai bentuk klarifikasi atau permintaan maaf.

Keputusan ini justru dianggap oleh banyak pihak sebagai upaya menghindari pertanyaan langsung dan akuntabilitas publik, sehingga semakin memicu kemarahan dan seruan untuk pemboikotan terhadap brand miliknya.

Dampak dan Reaksi Warganet

Reaksi warganet terhadap kasus ini sangat beragam, namun didominasi oleh dukungan terhadap korban dan tuntutan keadilan. Beberapa poin penting yang muncul dalam diskusi meliputi:

  • Dukungan untuk Korban: Banyak warganet menyatakan solidaritas dan memberikan ruang aman bagi korban untuk bersuara.
  • Kritik terhadap Budaya Diam: Ada kecaman terhadap praktik menutupi kasus pelecehan seksual di industri fashion dan bisnis.
  • Seruan untuk Akuntabilitas: Warganet menekankan pentingnya pertanggungjawaban publik dari figur publik seperti Mohan.
  • Debat tentang Efektivitas Cancel Culture: Sebagian warganet mempertanyakan apakah cancel culture benar-benar membawa perubahan atau hanya sekadar tren sesaat.

Kasus ini menyoroti bagaimana media sosial dapat menjadi alat yang kuat untuk mengangkat isu-isu sensitif seperti pelecehan seksual, sekaligus memicu perdebatan tentang etika dan konsekuensi dari cancel culture dalam masyarakat digital.