Gibran: Kuasai Teknologi AI, Pegang Teguh Etika
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia, termasuk etika dan kesiapan pemerintah dalam membangun ekosistemnya. Dalam video yang diunggah di TikTok, Selasa (16/6), ia menegaskan bahwa AI bukan lagi masa depan, melainkan kenyataan hari ini.
Gibran menjelaskan bahwa saat ini terjadi transformasi dari literasi baca tulis menuju literasi digital, dengan AI berada di puncak perubahan tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain dan penguasa teknologi AI. "Kita tidak bisa lagi menutup mata, atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujarnya.
Pelajar diminta memahami bahwa AI bukan alat yang membuat malas, melainkan alat untuk mempercepat berbagai proses. AI dapat digunakan untuk membantu belajar, mencari data, mempelajari bahasa asing, dan memahami rumus matematika dengan cara yang lebih sederhana. Gibran menekankan agar AI digunakan untuk memicu kreativitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir. "Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kepastian," tambahnya.
Anak sulung Presiden Ketujuh RI Joko Widodo ini juga mengajak para guru dan orang tua untuk melek AI. Guru yang menguasai AI akan memiliki 'kekuatan super' dalam mendidik secara lebih efektif. AI dapat membantu sisi administratif guru, seperti membuat pertanyaan, menyajikan penjelasan sederhana, dan memberikan contoh kasus yang memudahkan murid menyerap materi. "Sehingga bapak ibu punya lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid-murid kita," ucap Gibran.
Gibran berpesan kepada orang tua agar selalu mendampingi anak-anak mereka dalam menggunakan teknologi. "Jangan sampai anak terbang tinggi dengan teknologi, tapi orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses," katanya.
Etika dalam Pemanfaatan AI
Gibran juga menyoroti pentingnya etika dalam pemanfaatan AI, yang menurutnya jauh lebih penting daripada sekadar penguasaan teknis. "Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus didasari oleh nilai-nilai integritas. "Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial," tutur Gibran yang terlihat memangku dan mengelus kucing sepanjang video.
Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan moralitas masyarakat sebagai bangsa yang beradab. Pemerintah Indonesia telah berhasil menyelesaikan Readiness Assessment Methodology untuk AI yang disusun UNESCO. Gibran menjelaskan bahwa alat ini berfungsi sebagai diagnosis untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI di Indonesia di masa depan sesuai pedoman etika.
"Tugas pemerintah adalah menyiapkan ekosistemnya dan tugas kita semua adalah mempersiapkan kapasitas diri kita masing-masing," katanya. "Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat," lanjut Gibran.



