Seruan Saling Hormat di Tengah Beda Awal Muharam 1448 H
Seruan Saling Hormat di Tengah Beda Awal Muharam

Jakarta - Perbedaan penetapan awal tahun baru Islam 1448 Hijriah terjadi antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pemerintah. Meskipun demikian, masyarakat diimbau untuk tetap saling menghormati perbedaan tersebut.

PBNU Tetapkan 1 Muharam 1448 H pada 17 Juni 2026

PBNU mengumumkan bahwa 1 Muharam 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Keputusan ini didasarkan pada hasil rukyatul hilal yang dilakukan pada Senin, 29 Zulhijah 1447 H atau 15 Juni 2026. Seluruh titik pemantauan melaporkan bahwa hilal tidak terlihat. Dengan demikian, PBNU menggunakan metode istikmal, yaitu menyempurnakan bulan Zulhijah menjadi 30 hari.

Pengumuman tersebut disampaikan melalui surat nomor 146/PB.08/A.II.11.13/13/06/2026 yang diunggah di situs resmi NU dan akun Instagram Lembaga Falakiyah PBNU pada Selasa, 16 Juni 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kemenag Tetapkan 1 Muharam 1448 H pada 16 Juni 2026

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 1 Muharam 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa hilal awal Muharam telah memenuhi kriteria imkanur rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura). Kriteria MABIMS mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Berdasarkan perhitungan pada 15 Juni 2026, tinggi hilal saat matahari terbenam berkisar antara 0,92 derajat di Merauke hingga 4,02 derajat di Sabang. Sementara elongasinya berkisar antara 5,64 derajat hingga 6,98 derajat. Sebagian besar wilayah Indonesia dinilai telah memenuhi kriteria minimum MABIMS, sehingga awal Muharam ditetapkan pada 16 Juni 2026.

Seruan Saling Hormat dari Berbagai Pihak

Kemenag menyatakan menghormati keputusan PBNU. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa pihaknya menghargai hasil rukyatul hilal yang dilakukan PBNU.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengimbau agar perbedaan ini tidak dibesar-besarkan. Sekjen MUI Amirsyah Tambunan mengajak umat Islam untuk memahami makna tahun baru hijriah sebagai momentum hijrah, yaitu perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya memperbarui sikap mental, moral, dan memperkuat persatuan bangsa.

Amirsyah juga mengingatkan bahwa hijrah transformatif mencakup perubahan nilai, yaitu membentuk karakter anak bangsa yang berintegritas, jujur, dan menjauhi korupsi, kolusi, serta nepotisme. Semangat hijrah diharapkan menjadi momentum untuk memperbaiki jati diri dan mewujudkan peradaban bangsa yang maju, adil, dan bermartabat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga