Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa penggelaran layanan 6G di Indonesia memerlukan kesiapan yang matang, terutama dari sisi perangkat teknologi dan spektrum frekuensi. Saat ini, ketersediaan spektrum belum memadai untuk mendukung layanan 6G.
Kebutuhan Spektrum 6G dan Kondisi Saat Ini
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menyatakan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di masa depan membutuhkan koneksi 6G. Layanan 6G memerlukan kapasitas uplink yang lebih besar, latensi super rendah, kemampuan transmisi data resolusi tinggi, interconnected antar perangkat, dan integrasi dengan AI.
Untuk menghadirkan 6G, setiap operator seluler minimal membutuhkan lebar pita 200-400 MHz. Namun, total bandwidth yang saat ini digunakan oleh operator seperti Indosat Ooredoo Hutchison, Telkomsel, dan XLSmart hanya 452 MHz, dan tidak ada satu operator pun yang memiliki pita kontigu minimal 200 MHz.
Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz
Komdigi tengah melakukan lelang frekuensi 700 MHz (total bandwidth 70 MHz) dan 2,6 GHz (190 MHz). Setelah lelang, total bandwidth yang tersedia menjadi 712 MHz. Namun, kebutuhan satu operator tetap 200 MHz. Adis menjelaskan, "Setelah lelang itu total bandwidth 712 MHz, sedangkan kebutuhannya satu operator itu butuh 200 MHz."
Ia menambahkan, "Nggak ada satu pita frekuensi yang contiguous, paling besar itu adalah lelang sekarang itu di 2,6 GHz itu nggak sampai 200 MHz. Jadi, kalau buat 6G itu nggak sampai buat satu operator."
Pembahasan Spektrum di WRC 2027
Agenda sidang World Radio Communications Conferences (WRC) 2027 akan membahas pita frekuensi baru untuk 6G, meliputi 4.400-4.800 MHz, 7.125-8.400 MHz, 14,8-15,35 GHz, dan 6.425-7.125 MHz. Namun, keempat pita tersebut sudah digunakan untuk keperluan lain seperti microwave link, satelit, dan radio navigasi penerbangan.
Adis mengungkapkan, "Ada empat frekuensi dan masing-masing frekuensi sudah ada yang pakai. Jadi empat frekuensi ini tidak ada yang lahan kosong... Ini situasi yang tidak mudah sebenarnya."
Dampak dan Langkah ke Depan
Keterbatasan spektrum menjadi tantangan utama adopsi 6G di Indonesia. Komdigi terus berupaya mengoptimalkan alokasi frekuensi dan berpartisipasi dalam forum internasional untuk mendapatkan akses spektrum baru. Tanpa persiapan yang matang, Indonesia berisiko tertinggal dalam adopsi 6G, seperti yang terjadi pada 5G.



