Kondisi Terbalik Internet Indonesia: Mobile Ngebut, Fixed Broadband Tersendat
Laporan terbaru dari Speedtest Global Index oleh Ookla untuk bulan November 2025 mengungkapkan dua sisi yang bertolak belakang dalam perkembangan koneksi internet di Indonesia. Di satu sisi, layanan internet mobile menunjukkan peningkatan signifikan, sementara di sisi lain, fixed broadband yang sedang digenjot pemerintah justru mengalami kemunduran.
Peningkatan Signifikan pada Internet Mobile
Kecepatan internet mobile Indonesia tercatat mencapai 50,77 Mbps pada November 2025, naik dari periode sebelumnya. Peningkatan ini mengangkat peringkat Indonesia enam posisi, menempatkannya di urutan ke-73 dari 103 negara di dunia. Dalam konteks regional Asia Tenggara, Indonesia berhasil mengungguli Kamboja dan Laos, meskipun masih tertinggal dari negara-negara tetangga lainnya seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Berikut adalah daftar peringkat internet mobile di Asia Tenggara untuk November 2025:
- Brunei Darussalam: 226,28 Mbps (peringkat 8)
- Singapura: 195,65 Mbps (peringkat 10)
- Vietnam: 160,50 Mbps (peringkat 17)
- Malaysia: 141,81 Mbps (peringkat 27)
- Thailand: 136,91 Mbps (peringkat 29)
- Filipina: 54,39 Mbps (peringkat 70)
- Indonesia: 50,77 Mbps (peringkat 73)
- Kamboja: 50,18 Mbps (peringkat 75)
- Laos: 47,18 Mbps (peringkat 78)
Kemunduran pada Fixed Broadband
Sebaliknya, layanan fixed broadband Indonesia justru mengalami penurunan. Peringkatnya melorot empat urutan, menduduki posisi ke-119 dari 154 negara di dunia. Di kawasan ASEAN, Indonesia hanya mampu mengungguli Myanmar, sementara tertinggal jauh dari negara-negara lain seperti Singapura yang memimpin dengan kecepatan 407,05 Mbps.
Daftar peringkat internet fixed broadband di Asia Tenggara untuk November 2025 adalah sebagai berikut:
- Singapura: 407,05 Mbps (peringkat 1)
- Thailand: 275,26 Mbps (peringkat 10)
- Vietnam: 273,64 Mbps (peringkat 11)
- Malaysia: 162,39 Mbps (peringkat 44)
- Filipina: 107,95 Mbps (peringkat 62)
- Brunei Darussalam: 85,53 Mbps (peringkat 87)
- Laos: 52,34 Mbps (peringkat 109)
- Kamboja: 48,81 Mbps (peringkat 113)
- Indonesia: 43,18 Mbps (peringkat 119)
- Myanmar: 28,47 Mbps (peringkat 132)
Upaya Pemerintah dan Tantangan ke Depan
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) saat ini tengah fokus menggenjot fixed broadband dengan target kecepatan mencapai 100 Mbps dan harga yang terjangkau. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah lelang frekuensi 1,4 GHz, yang dimenangkan oleh PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha Surge, dan Eka Mas Republik pemilik merek MyRepublic. Namun, laporan ini menunjukkan bahwa upaya tersebut masih menghadapi tantangan besar untuk mengejar ketertinggalan.
Secara global, laporan Speedtest Global Index November 2025 mencatat bahwa kecepatan internet rata-rata untuk download di kategori mobile internet mencapai 103,01 Mbps, upload 14,27 Mbps, dan latensi 24 ms. Sementara itu, untuk fixed broadband, kecepatan download global menyentuh 115,43 Mbps, upload 58,94 Mbps, dan latensi 9 ms. Data ini menggarisbawahi bahwa Indonesia masih perlu berbenah, terutama dalam sektor fixed broadband, untuk bersaing di tingkat internasional.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas strategi pemerintah dalam pemerataan sinyal internet, yang dianggap sebagai kebutuhan primer di era digital. Dengan 230 juta pengguna internet di Indonesia namun masih ada 55 juta warga yang belum terhubung, upaya percepatan infrastruktur tetap menjadi prioritas utama untuk mengurangi kesenjangan digital.



