Ayah di China Gugat 4 Perusahaan Game Gara-gara Anak Kecanduan
Ayah di China Gugat 4 Perusahaan Game Gara-gara Anak Kecanduan

Seorang ayah bermarga Qin secara resmi menggugat empat perusahaan pengembang game terkemuka di China setelah putranya yang disebut kecanduan bermain game menelan 18 pil obat demam sekaligus. Gugatan tersebut diajukan dengan tujuan utama memaksa perusahaan-perusahaan game untuk lebih serius mencegah kecanduan pada anak dan remaja, bukan sekadar mencari ganti rugi.

Dalam berkas gugatan yang dilaporkan, Qin menargetkan empat raksasa industri game China: Tencent, NetEase, miHoYo, dan 37 Interactive Entertainment. Keempat perusahaan ini dikenal sebagai pengembang sekaligus penerbit berbagai permainan daring populer yang banyak dimainkan oleh kalangan muda. Qin menuntut kompensasi simbolis sebesar 10 yuan, atau setara dengan sekitar Rp 26.704,50, sebagai bentuk pernyataan sikap.

Kompensasi Simbolis, Tujuan Besar

Jumlah kompensasi yang diminta memang sangat kecil secara nominal. Namun, langkah Qin bukanlah tentang uang. Ini adalah upaya hukum untuk mendorong perubahan kebijakan di tingkat industri. Ia berharap pengadilan China bersedia mengeluarkan perintah yang mewajibkan atau mengawasi perusahaan-perusahaan game tersebut dalam menjalankan kewajiban mereka melindungi anak-anak dari bahaya kecanduan game.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pengacara atau perwakilan hukum Qin tidak disebutkan dalam laporan awal, tetapi substansi gugatan menekankan pada tanggung jawab sosial perusahaan. Qin menilai bahwa platform game selama ini belum cukup ketat dalam membatasi waktu bermain atau memberikan sistem peringatan yang efektif bagi pengguna di bawah umur.

Kronologi dan Dampak Kecanduan

Menurut gugatan, putra Qin mengalami kecanduan bermain game hingga akhirnya menelan 18 pil obat demam sekaligus. Tindakan tersebut diduga dilakukan dalam kondisi mental yang tidak stabil akibat tekanan dari kebiasaan bermain game yang berlebihan. Beruntung, nyawa sang anak masih tertolong setelah mendapatkan perawatan medis, namun peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga.

Insiden ini menjadi peringatan keras bagi orang tua dan regulator di China tentang dampak buruk kecanduan game pada kesehatan mental anak. Sebelumnya, pemerintah China telah memberlakukan berbagai aturan ketat, seperti pembatasan waktu bermain game online bagi anak di bawah 18 tahun hingga 1 jam per hari pada hari tertentu, serta larangan bermain game tengah malam. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa penegakan aturan di tingkat platform masih memiliki celah.

Peran Perusahaan Game dalam Pencegahan

Dalam gugatannya, Qin mengajukan permohonan agar pengadilan mewajibkan Tencent, NetEase, miHoYo, dan 37 Interactive Entertainment untuk memperkuat sistem verifikasi usia, membatasi sesi bermain secara lebih ketat, dan menyediakan fitur pengingat kesehatan. Ia juga meminta agar perusahaan-perusahaan tersebut diawasi secara berkala oleh otoritas terkait untuk memastikan kepatuhan.

Pakar kebijakan digital menilai bahwa gugatan ini bisa menjadi preseden penting dalam hukum perdata China. Meski nilai kompensasi kecil, putusan pengadilan yang memerintahkan perusahaan game untuk melakukan perubahan sistem akan berdampak jauh lebih luas. Jika hakim mengabulkan permohonan Qin, maka perusahaan game wajib menyesuaikan kebijakan mereka tidak hanya untuk satu kasus, tetapi untuk seluruh pengguna anak di seluruh negeri.

Industri Game China di Sorotan

China merupakan pasar game terbesar di dunia dengan puluhan juta pemain muda. Perusahaan seperti Tencent dan NetEase memiliki portofolio game yang sangat luas, mulai dari game mobile, PC, hingga esports. Tekanan publik terhadap industri ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya kasus kecanduan game di kalangan pelajar.

Sebelumnya, pemerintah China juga telah membatasi jumlah jam bermain dan menerapkan sistem wajib verifikasi wajah untuk mengakses game. Namun, banyak laporan menunjukkan bahwa anak-anak masih bisa mengakali sistem dengan menggunakan data orang dewasa. Kasus Qin menambah bukti bahwa upaya tersebut belum cukup.

Harapan Keluarga dan Masyarakat

Dalam pernyataan yang disampaikan kepada media setempat, Qin menyampaikan bahwa ia tidak ingin mengorek keuntungan dari perusahaan game. Yang ia inginkan adalah keselamatan anak-anak lain yang mungkin mengalami nasib serupa. Ia berharap gugatan ini menjadi pengingat bagi seluruh industri bahwa kecanduan game bukanlah masalah sepele, melainkan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan intervensi serius.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Sidang perdana gugatan ini akan menjadi perhatian luas publik China. Banyak orang tua yang mengalami masalah serupa berharap ada keputusan yang mampu mereformasi cara perusahaan game memperlakukan pengguna di bawah umur. Dengan dukungan publik yang kuat, gugatan Qin berpotensi memicu gelombang tuntutan hukum serupa di masa depan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari keempat perusahaan game yang digugat. Proses hukum di China biasanya memakan waktu beberapa bulan, terutama untuk kasus yang melibatkan perusahaan besar. Terlepas dari hasil akhirnya, langkah Qin telah membuka diskusi nasional mengenai tanggung jawab platform digital dalam melindungi anak-anak.

Gugatan ini menegaskan bahwa kecanduan game tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga pelaku industri yang menciptakan ekosistem permainan. Dengan adanya tuntutan hukum seperti ini, diharapkan perusahaan game lebih proaktif dalam merancang sistem yang sehat dan aman bagi generasi muda.