Ibas: Santri Harus Kuasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ibas: Santri Harus Kuasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, mengajak pondok pesantren untuk memperkuat pendidikan akhlak, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kreativitas generasi muda. Ia juga mendorong kemandirian umat di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.

Apresiasi kepada Ulama dan Santri

Ibas menyampaikan rasa hormat dan apresiasinya kepada para alim ulama, kiai, ustaz, serta santri yang selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga nilai moral, persatuan, dan kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, di tengah perkembangan dunia yang terus berubah cepat, pesantren memiliki peran strategis tidak hanya dalam menjaga nilai keislaman dan akhlak, tetapi juga dalam menyiapkan generasi muda yang cerdas, adaptif, dan memahami tantangan global.

"Pesantren hari ini harus mampu melahirkan generasi yang kuat akhlaknya, luas ilmunya, memahami teknologi, kreatif, dan mampu mengikuti perkembangan dunia. Santri tidak boleh tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Ibas dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan

Pernyataan tersebut disampaikan Edhie Baskoro, yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, saat bersilaturahmi dengan para kiai, pengurus, dan pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Trenggalek beberapa waktu lalu. Silaturahmi itu dilakukan dalam agenda Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bertema 'Bersatu Dalam Ukhuwah, Maju Sejahtera Bangun Bangsa'. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap isu-isu global seperti geopolitik, geoekonomi, geostrategi, hingga digitalisasi. Dengan demikian, generasi muda Indonesia mampu bersaing dan tetap memiliki arah di tengah perubahan dunia.

"Dunia bergerak sangat cepat. Ada tantangan geopolitik, geoekonomi, perkembangan digitalisasi, hingga perubahan teknologi yang luar biasa. Karena itu, santri juga perlu memahami perkembangan dunia agar bisa menjadi generasi yang bijak, siap bersaing, tetapi tetap memiliki nilai dan jati diri," lanjutnya.

Pendidikan Karakter dan Etika

Ibas pun mengingatkan bahwa kemajuan ilmu dan teknologi tetap harus dibarengi dengan pendidikan karakter, adab, dan etika dalam proses belajar mengajar. Menurutnya, pesantren berperan besar dalam menjaga nilai kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, dan keteladanan di lingkungan pendidikan.

"Ilmu yang tinggi harus diiringi akhlak yang baik. Pendidikan tidak hanya soal kepintaran, tetapi juga tentang adab, etika, rasa hormat, dan kasih sayang kepada sesama. Pesantren sejak dahulu menjadi tempat lahirnya generasi yang santun, rendah hati, dan membawa manfaat bagi masyarakat," ungkap Ibas.

Ia berharap lingkungan pesantren terus menjadi ruang pendidikan yang aman, penuh keteladanan, dan mampu membentuk karakter generasi muda yang berempati serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Kreativitas dan Kemandirian Ekonomi

Selain pendidikan karakter, Ibas juga menyoroti pentingnya kreativitas dan kemandirian ekonomi di lingkungan pesantren. Menurutnya, generasi muda harus didorong untuk menjadi pribadi yang dinamis, inovatif, dan mampu menciptakan peluang baru berbasis kreativitas.

"Kita ingin santri-santri kita juga tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mandiri. Kreativitas harus terus dikembangkan supaya lahir engine-engine ekonomi baru dari pesantren dan masyarakat. Anak-anak muda harus berani berinovasi, menciptakan peluang kerja, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya," tegasnya.

Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII ini menambahkan bahwa Undang-Undang Pesantren telah memberikan ruang besar bagi pesantren untuk berkembang tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi umat.

"Alhamdulillah, Undang-Undang Pesantren telah mewadahi kita semua. Pesantren bisa terus berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi produktif yang bermanfaat dan berkelanjutan," katanya.

Perkuat Kolaborasi Tingkatkan Kesejahteraan

Pada kesempatan tersebut, Ibas juga mengajak seluruh elemen, mulai dari pimpinan pondok pesantren, santri, pemerintah, hingga wakil rakyat untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi dalam membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

"Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi dan persatuan antara pondok pesantren, pemerintah, masyarakat, dan wakil rakyat. Kalau kita kompak, insyaallah kemajuan dan kesejahteraan masyarakat bisa lebih cepat terwujud," katanya.

Ia menegaskan meskipun berada di tingkat pusat, dirinya akan terus berupaya mengawal berbagai kebutuhan masyarakat daerah, termasuk pendidikan pesantren, kesejahteraan umat, hingga penguatan sumber daya manusia.

Dalam kesempatan itu, Ibas turut menyinggung pentingnya pelayanan ibadah haji yang terjangkau dan berkualitas bagi masyarakat. Ia memastikan pihaknya terus mengawal agar biaya haji tetap dalam batas yang wajar serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan jamaah.

"Kami terus mengawal agar biaya haji tetap dalam batas kepatutan. Dengan subsidi dan dukungan dari BPKH, masyarakat tidak terbebani biaya penuh. Kami juga terus mendorong agar pelayanan jamaah semakin baik dan waktu tunggu haji dapat dipersingkat," jelasnya.

Doa dan Harapan untuk Pesantren

Menutup sambutannya, Ibas memohon doa dan dukungan dari para kiai dan pimpinan pesantren agar terus diberikan kekuatan dalam mengawal aspirasi masyarakat dan memperjuangkan kemajuan umat.

"Kami mohon doa dan dukungan agar pesantren terus menjadi cahaya bagi umat dan bangsa, menjaga akhlak generasi muda, memperkuat ilmu pengetahuan, dan melahirkan generasi yang bermanfaat bagi Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Kiai Haji Imron Rosyidi dari Pondok Pesantren Ar Rosyidiah mengapresiasi perhatian pemerintah kepada pesantren dan masyarakat. Menurutnya, sinergi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar pembangunan tidak hanya menghadirkan kemajuan ekonomi, tetapi juga memperkuat moral dan kualitas manusia Indonesia.