AI Bakal Rombak Cara Belajar, Rektor IMDE Minta Perguruan Tinggi Berbenah
AI Rombak Cara Belajar, Rektor IMDE Minta PT Berbenah

Rektor Institut Media Digital Emtek (IMDE), Totok Amin Soefijanto, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sebagai momentum transformasi pembelajaran dan riset. Pernyataan ini disampaikan dalam puncak peringatan 5th Anniversary Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute) bertema "From Growth to Influence: Shaping the Future of Digital Education" di Bogor, Selasa (28/7/2026).

Transformasi Perguruan Tinggi di Era AI

Menurut Totok, kehadiran AI akan mengubah total cara belajar dan mencari ilmu. "Keberadaan AI niscaya akan merombak cara kita belajar dan mencari ilmu. Kita semua harus berbenah untuk menjadi semakin baik dalam menyiapkan anak-anak kita menghadapi dunia VUCA di masa depan," ujarnya. Forum High-Level Strategic Talk Show bertajuk "ICE Institute at 5: From Innovation to Transformative Impact" mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, industri, organisasi internasional, akademisi, mahasiswa, alumni, dan komunitas pembelajar dari dalam dan luar negeri.

Sejumlah pembicara hadir, antara lain Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Terbuka Prof. Ainun Na'im, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University Prof. Deni Noviana, Educational Psychology & Digital Learning Specialist Universitas Indonesia F.A. Triatmoko HS, serta mahasiswa Universitas Pradita Felix Fernando sebagai representasi generasi pembelajar digital. Acara ini juga diisi penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan mitra strategis, peluncuran buku, pengumuman pilot project, dan penganugerahan ICE Institute Awards.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Peran ICE Institute dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Selama lima tahun, ICE Institute telah mengembangkan ekosistem pembelajaran digital dengan menghubungkan perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan mitra internasional dalam satu platform kolaboratif. Model ini bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang fleksibel, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Totok menekankan bahwa perguruan tinggi harus menjadikan momentum ini untuk memperkaya proses perkuliahan, riset, dan meningkatkan kualitas layanan kepada mahasiswa dan masyarakat.

ICE Institute resmi diluncurkan pada 28 Juli 2021 sebagai national online learning marketplace. Lembaga ini terus berinovasi dalam micro-credentials, pengakuan kredit pembelajaran, dan kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Capaian dan Target ICE Institute

Hingga usia lima tahun, ICE Institute telah menjalin kemitraan dengan 49 perguruan tinggi dan institusi. Platform ini menyediakan 885 kursus daring nasional dan memberi akses ke lebih dari 16.000 kursus daring internasional. Bersama mitra, telah dikembangkan 401 mata kuliah daring yang didukung oleh 956 pengembang konten. Seluruh layanan ini telah dimanfaatkan oleh lebih dari 50.925 pembelajar dari Indonesia dan mancanegara.

Memasuki tahun kelima, ICE Institute menargetkan perluasan kolaborasi lintas sektor, inovasi pembelajaran yang lebih relevan dengan dunia kerja, serta penguatan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang fleksibel dan berkualitas. Dengan kolaborasi ini, ICE Institute diharapkan menjadi motor penggerak transformasi pendidikan tinggi digital Indonesia hingga tingkat global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga