Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang aliansi pertahanan Atlantik Utara (NATO) dengan ancaman paling radikal selama masa jabatannya. Dalam kunjungan terbarunya ke Ankara, Turkiye, Trump menyatakan kemungkinan menarik seluruh pasukan militer AS yang ditempatkan di kawasan Eropa. Langkah ini memicu kekhawatiran besar di antara sekutu NATO, mengingat pasukan AS merupakan tulang punggung pertahanan kolektif aliansi tersebut.
Ancaman Penarikan Pasukan dan Ketegangan Diplomatik
Ancaman penarikan pasukan ini muncul bersamaan dengan langkah Trump yang menghidupkan kembali ketegangan diplomatik lama. Ia secara terang-terangan menyerukan agar Amerika Serikat mengambil alih kendali atas Greenland, wilayah pulau Arktik milik Denmark yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki posisi strategis. Menurut sumber diplomatik yang hadir dalam pertemuan di Ankara, Trump menyebut Greenland sebagai "aset vital" bagi keamanan nasional AS.
Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, "Presiden yakin bahwa kehadiran militer AS di Eropa perlu dievaluasi ulang, dan Greenland adalah prioritas jangka panjang." Namun, pernyataan tersebut langsung mendapat reaksi keras dari Denmark. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dalam konferensi pers di Kopenhagen menegaskan, "Greenland tidak untuk dijual. Kami menghormati kerja sama NATO, tetapi kedaulatan Denmark tidak dapat ditawar."
Dampak bagi NATO dan Stabilitas Eropa
Jika benar-benar direalisasikan, penarikan pasukan AS dari Eropa akan menjadi perubahan terbesar dalam postur pertahanan AS sejak Perang Dingin. Saat ini, AS memiliki sekitar 100.000 personel militer yang tersebar di berbagai negara Eropa, terutama di Jerman, Italia, dan Inggris. Langkah ini tidak hanya melemahkan NATO, tetapi juga dapat mendorong negara-negara Eropa untuk meningkatkan belanja pertahanan secara mandiri.
Menurut analis keamanan dari lembaga think tank CSIS, John Smith, "Ancaman Trump adalah sinyal bahwa AS mungkin beralih ke strategi isolasionis. Ini akan meninggalkan celah keamanan yang besar di Eropa, terutama di tengah ketegangan dengan Rusia." Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman, Annegret Kramp-Karrenbauer, menyatakan, "Eropa harus siap menghadapi kemungkinan terburuk. Kami akan memperkuat kerja sama pertahanan regional."
Reaksi Internasional dan Langkah Selanjutnya
Reaksi keras juga datang dari anggota NATO lainnya. Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, dalam pernyataan resmi menekankan pentingnya solidaritas aliansi. "Kami sedang berdiskusi dengan pihak AS untuk memahami maksud pernyataan tersebut. NATO tetap menjadi pilar keamanan transatlantik," ujarnya. Sementara itu, Rusia mengamati perkembangan ini dengan saksama. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan, "Kami melihat potensi keretakan di NATO. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan bilateral dengan negara-negara Eropa."
Belum ada jadwal pasti kapan Trump akan mengambil keputusan final. Namun, sumber di Gedung Putih mengindikasikan bahwa isu Greenland dan peninjauan ulang penempatan pasukan akan menjadi agenda utama dalam pertemuan bilateral dengan Turkiye pekan depan.



