Taliban-Rusia Makin Mesra: Perjanjian Militer dan Peringatan untuk Pakistan
Taliban-Rusia Makin Mesra: Perjanjian Militer dan Peringatan

Menteri Pertahanan sementara pemerintahan Taliban, Mullah Muhammad Yaqoob, baru saja kembali ke Kabul setelah melakukan kunjungan ke Moskow. Dalam pernyataannya, ia membawa pesan tegas yang ditujukan kepada Pakistan. Yaqoob menyatakan bahwa negara tetangga yang kerap berseteru itu "tidak akan lagi berani" menyerang wilayah Afganistan dalam waktu dekat. Hal ini merujuk pada perjanjian kerja sama militer-teknis yang baru saja ditandatangani di Moskow. Ia juga menegaskan bahwa implementasi kesepakatan dengan Rusia akan segera dimulai.

Kesepakatan Senjata Rusia-Taliban dan Batasannya

Di saat yang sama, Yaqoob berupaya meredam kekhawatiran internasional terkait kerja sama militer antara Taliban dan Rusia. Dia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukanlah pakta pertahanan atau keamanan, melainkan berfokus pada perbaikan dan pemeliharaan sistem persenjataan buatan Rusia yang telah dimiliki Afganistan, termasuk helikopter dan pesawat lainnya. Ia bahkan menyebut kemungkinan kerja sama serupa juga dapat dilakukan dengan Amerika Serikat (AS), dengan alasan bahwa sejumlah persenjataan AS masih tertinggal di Afganistan pasca penarikan pasukan NATO. Pesan ganda ini merupakan penangkalan terhadap Pakistan sekaligus mencerminkan bagaimana Taliban serta pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin membingkai hubungan yang kian berkembang. Hubungan tersebut diposisikan bukan sebagai aliansi ideologis, melainkan kerja sama pragmatis yang memberi keuntungan langsung bagi kedua pihak. Namun hingga kini, rincian lengkap dari kesepakatan tersebut belum dipublikasikan.

Utusan khusus Rusia untuk Afganistan, Zamir Kabulov, menyatakan bahwa kerja sama itu berfokus pada perbaikan peralatan militer buatan Rusia dan berpotensi membuka jalan bagi kontrak pertahanan di masa mendatang. Namun, untuk saat ini, prioritas utamanya adalah memulihkan sistem persenjataan yang sudah dimiliki Afganistan. Pasukan Soviet menginvasi Afganistan pada akhir 1979 dan bertahan selama sekitar satu dekade demi menopang rezim boneka. Sejumlah sistem persenjataan yang mereka tinggalkan masih bertahan dan digunakan hingga saat ini. Setelah 2001, Amerika Serikat dan NATO juga mengandalkan helikopter buatan Rusia, khususnya Mi-17, dalam membangun angkatan udara Afganistan. Penggunaan ini dipilih karena pilot dan teknisi Afganistan telah terbiasa mengoperasikannya, serta karena helikopter tersebut dinilai sesuai dengan kondisi medan yang berat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Waktu Kesepakatan Rusia-Taliban Jadi Sorotan

Pernyataan Menteri Pertahanan sementara Taliban muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Afganistan dan Pakistan. Ketegangan tersebut ditandai dengan insiden saling serang lintas batas serta serangan udara yang terjadi di dalam wilayah Afganistan. Islamabad berulang kali menuduh Taliban melindungi militan Tehreek-e-Taliban Pakistan. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Taliban. Pemerintahan di Kabul disebut tengah berupaya memperkuat kemampuan militernya sekaligus mengirimkan sinyal kepada Pakistan melalui pernyataan tersebut. Di sisi lain, Rusia dinilai memiliki kepentingan untuk memperkuat perannya sebagai faktor keamanan di kawasan tersebut, di tengah memudarnya pengaruh Barat. Kantor berita negara Rusia, TASS, melaporkan bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Sergei Shoigu menyatakan penolakannya terhadap rencana penempatan pangkalan Amerika Serikat atau NATO serta infrastruktur militer di Afganistan maupun negara-negara sekitarnya.

Hubungan Rusia-Taliban Dinilai Pragmatis dan Berbasis Kepentingan

Abas Basir, mantan menteri dalam pemerintahan Afganistan sebelum Taliban kembali menguasai Kabul, menilai hubungan antara Taliban dan Rusia bersifat "pragmatis dan berbasis kepentingan", bukan sebagai aliansi politik yang sesungguhnya. Basir menyebut salah satu perhatian utama Rusia adalah kelompok Islamic State Khorasan (ISKP) serta risiko pemanfaatan wilayah Afganistan untuk mengganggu stabilitas Asia Tengah hingga berpotensi mengancam keamanan domestik Rusia. Taliban yang selama ini memerangi ISKP dipandang Moskow sebagai "penyangga keamanan relatif". Di sisi lain, Taliban disebut memperoleh keuntungan berupa legitimasi politik di tingkat regional serta peluang ekonomi, termasuk dalam sektor perdagangan, khususnya impor energi dan gandum di tengah tekanan ekonomi. Basir juga menyoroti upaya Taliban untuk memperluas hubungan luar negeri guna menghindari ketergantungan pada satu atau dua aktor eksternal.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Minimnya Informasi dan Narasi yang Bersaing

Analis keamanan dan politik Besmillah Taban menyatakan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan tegas mengenai isi kesepakatan antara Rusia dan Taliban. Dia menilai hal ini tidak terlepas dari rekam jejak kedua pihak yang kerap membatasi informasi kepada publik. Taban juga menilai kunjungan Taliban ke Moskow dimanfaatkan untuk pesan domestik. Langkah tersebut disebut sebagai upaya memaksimalkan nilai propaganda sekaligus meningkatkan moral internal, setelah serangan Pakistan sebelumnya melemahkan kepercayaan di kalangan Taliban. Dia turut menyoroti dinamika lain yang berkembang pasca pernyataan Menteri Pertahanan Taliban. Setelah Yaqoob secara terbuka menekankan pentingnya kesepakatan tersebut, pejabat Rusia bergerak cepat meredam ekspektasi. Pihak Rusia menegaskan bahwa kerja sama yang ada saat ini bersifat terbatas, hanya mencakup perbaikan dan pemulihan peralatan militer peninggalan era Soviet yang masih berada di Afganistan.

Perhatian Rusia untuk Afganistan di Tengah Tekanan Barat

Para analis menyebut kepentingan utama Rusia di Afganistan masih berfokus pada aspek keamanan, termasuk upaya membatasi peredaran narkotika melalui Asia Tengah. Di luar itu, jejak ekonomi Moskow di Afganistan dinilai masih terbatas, sehingga komitmen strategis jangka panjang belum terlihat jelas. Di sisi lain, Taliban menghadapi kebutuhan yang lebih mendesak. Peningkatan tekanan dari Pakistan serta penurunan kemampuan militer mendorong kelompok tersebut mencari sistem persenjataan yang siap digunakan, sekaligus mitra yang dapat menyediakan layanan pemeliharaan. Sejumlah pakar juga menyoroti tantangan dalam penggunaan peralatan militer buatan Amerika Serikat yang lebih baru. Sistem tersebut dinilai sulit dipertahankan tanpa ketersediaan suku cadang dan dukungan eksternal. Sebaliknya, peralatan asal Rusia dianggap lebih memungkinkan untuk tetap operasional jika jalur perawatan kembali dibuka.

Mantan diplomat Afganistan untuk Rusia, Ghaus Janbaz, menyatakan bahwa kesepakatan terbaru terkait persenjataan tidak semata bersifat teknis. "Ini mencakup kerja sama militer dan teknis, namun pada tingkat tertentu juga memiliki dimensi politik," katanya kepada DW. Janbaz juga menyoroti posisi Rusia sebagai satu-satunya negara yang secara resmi mengakui pemerintahan saat ini di Kabul. Ia menyebut, di tengah tekanan yang dihadapi Rusia akibat perang di Ukraina serta ketegangan dengan Eropa Barat, kawasan Asia Tengah dan koridor yang berbatasan dengan Afganistan menjadi semakin penting dalam perencanaan keamanan Moskow. "Afganistan juga berbatasan dengan negara-negara tersebut, dan ada kemungkinan ancaman muncul melalui Afganistan menuju negara-negara itu maupun Rusia, sehingga Rusia berupaya mengamankan jalur ini," katanya.

Kedekatan Rusia-Taliban Mencuat di Tengah Pergeseran Geopolitik

Sejumlah pakar menilai menghangatnya hubungan Rusia dan Taliban merupakan bagian dari pergeseran geopolitik yang lebih luas di kawasan. Peneliti hubungan internasional Idrees Rahmani menyebut Afganistan kerap terseret dalam rivalitas kekuatan global akibat kelemahan struktural ekonominya. Dia menjelaskan, tanpa ekonomi domestik yang kuat, pemerintah Afganistan cenderung bergantung pada pihak luar yang mampu menopang stabilitas negara, meski harus menghadapi konsekuensi dari pilihan tersebut. Rahmani juga menyoroti tumpang tindih ketegangan global, mulai dari rivalitas Amerika Serikat dan Cina, konflik Rusia dengan Barat terkait perang di Ukraina, hingga ketegangan India–Pakistan serta dinamika di Timur Tengah. Dalam konteks ini, Afganistan dinilai berisiko terombang-ambing "seperti pusaran angin" di tengah perubahan tersebut.

Langkah Rusia mendekati Taliban dinilai mencolok jika dilihat dari konteks sejarah Afganistan. Invasi Soviet pada 1979 dan perang yang mengikutinya menjadi salah satu trauma besar bagi negara itu, memaksa jutaan orang mengungsi dan membentuk ulang kondisi sosial Afganistan selama puluhan tahun. Di tengah latar sejarah tersebut, Moskow kini memposisikan diri sebagai mitra keamanan bagi Taliban.