Jakarta - Biro Pusat Nasional NCB Interpol Divisi Hubinter Polri mengungkapkan bahwa Indonesia kini menjadi destinasi baru pusat operasi sindikat kejahatan online untuk kawasan Indo-Cina dan Asia Tenggara.
Pergeseran Operasi Sindikat
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris NCB Interpol Polri, Brigjen Untung Widyatmoko, dalam jumpa pers terkait penggerebekan kantor sindikat judi online di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, pada Minggu (9/5).
"Perkembangan hari ini menunjukkan bahwa pola pergeseran tindak pidana transnasional sudah mulai beralih ke Indonesia," ujar Untung dalam paparannya.
Menurut dia, penggerebekan yang melibatkan 321 warga negara asing (WNA) tersebut merupakan kelanjutan dari pengungkapan sindikat serupa di Batam, Kepulauan Riau beberapa waktu sebelumnya.
Basis Operasi Sebelumnya
Untung menjelaskan bahwa sebelumnya basis operasional sindikat kejahatan online berada di beberapa negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Kejahatan yang dilakukan tidak hanya judi online, tetapi juga love scam dan investasi online.
"Setelah ditertibkan, mulai terjadi pergeseran ke Indonesia dan itu tentunya sudah kami antisipasi dan kami prediksi," katanya.
Sebelumnya, sindikat kejahatan online juga telah terungkap di beberapa kota lain di luar Jakarta, seperti Batam, Surabaya, Denpasar, Surakarta, Yogyakarta, Sukabumi, dan Bogor. Meski demikian, Untung mengakui bahwa pihaknya belum memiliki data yang lengkap.
Modus Masuk ke Indonesia
Menurut Untung, para pelaku datang ke Indonesia umumnya karena ajakan dari sesama pelaku sindikat yang sudah lebih dulu beroperasi. Mereka masuk menggunakan izin wisata, memanfaatkan fasilitas bebas visa kunjungan. Apalagi, Indonesia belakangan gencar melakukan promosi wisata.
Namun, tidak hanya Indonesia, beberapa negara lain seperti Afrika Selatan dan Uni Emirat Arab juga menjadi tujuan perpindahan sindikat ini.
"Ada fasilitas bebas visa kunjungan. Kan kita juga sadar, di satu sisi pemerintah kita juga butuh adanya peningkatan angka pariwisata. Itu tidak bisa dipungkiri. Kita butuh adanya kunjungan wisatawan ke Indonesia. Tetapi di sisi lain, memang ini ada seperti dua sisi mata uang," pungkasnya.



