Serangan Gabungan AS-Israel Tewaskan Pimpinan Intelijen IRGC dan Puluhan Warga Sipil Iran
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengonfirmasi bahwa kepala organisasi intelijennya, Mayor Jenderal Majid Khademi, gugur dalam sebuah serangan militer yang dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel pada hari Senin (6/4/2026). Pernyataan tersebut disampaikan melalui saluran Telegram resmi IRGC dan dikutip oleh kantor berita AFP.
Dalam unggahannya, IRGC menyebut insiden tersebut sebagai "serangan teroris kriminal oleh musuh Amerika-Zionis" yang terjadi pada waktu subuh. Khademi dikenal sebagai figur berpengaruh dalam struktur intelijen Iran yang mengawasi operasi-operasi sensitif Garda Revolusi.
Korban Jiwa di Kalangan Warga Sipil, Termasuk Anak-Anak
Serangan udara terbaru ini tidak hanya menargetkan figur militer, tetapi juga mengakibatkan korban jiwa yang signifikan di kalangan warga sipil. Menurut laporan awal dari Kantor Humas Layanan Medis Darurat Teheran, puluhan orang tewas, dengan rincian enam anak-anak di antaranya berusia di bawah sepuluh tahun.
Lembaga tersebut menyatakan dengan penuh duka bahwa anak-anak yang menjadi korban "tidak memiliki hubungan apa pun dengan konflik yang terjadi, mereka adalah korban kekerasan yang menyentuh kehidupan polos dan kekanak-kanakan mereka." Identitas dan lokasi pasti kejadian masih dalam proses verifikasi, dengan rincian lebih lanjut mengenai jumlah korban luka dan operasi penyelamatan dijanjikan akan diumumkan kemudian.
Dampak Serangan di Beberapa Wilayah Permukiman
Gubernur Baharestan melaporkan bahwa daerah permukiman di kabupatennya menjadi sasaran serangan pada dini hari waktu setempat. Dua unit perumahan di kompleks Qaleh Mir hancur total, mengakibatkan 13 orang tewas dan 20 lainnya terluka. Semua korban telah dievakuasi ke fasilitas medis terdekat untuk mendapatkan perawatan.
Tim pencarian dan penyelamatan masih bekerja di lokasi untuk menemukan kemungkinan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Sementara itu, di kota Qom, Wakil Gubernur Bidang Politik dan Keamanan Provinsi Qom, Morteza Heydari, mengonfirmasi bahwa serangan sekitar pukul 01.00 waktu setempat menewaskan sembilan warga dan melukai 19 orang lainnya.
Eskalasi Konflik yang Berlanjut Sejak Februari
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik militer yang dimulai pada 28 Februari, sekitar delapan bulan setelah AS dan Israel melakukan serangan tanpa provokasi terhadap Iran. Agresi tersebut sebelumnya telah mengakibatkan gugurnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, ratusan warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak, serta sejumlah komandan militer senior Iran.
Sebagai bentuk pembalasan, Iran telah melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer dan kepentingan AS di negara-negara regional. Situasi ini memperburuk ketegangan di kawasan yang sudah rentan, dengan potensi dampak geopolitik yang lebih luas.
Insiden terbaru ini menegaskan bahwa konflik antara Iran dan koalisi AS-Israel belum menunjukkan tanda-tanda mereda, justru semakin mengintensifkan dengan korban di kedua belah pihak, terutama di kalangan masyarakat sipil yang tidak bersenjata.



