Polisi Hong Kong menggerebek dua toko buku independen di distrik Mong Kok pada Rabu (15/7/2026) dan menangkap lima orang. Tersangka terdiri dari dua pria dan tiga wanita yang diduga melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional (UU KN) Hong Kong 2024. Operasi ini merupakan putaran ketiga penindakan terhadap toko buku independen setelah sebelumnya pada Maret dan Juni 2026.
Kronologi Penggerebekan
Toko yang digerebek adalah Have A Nice Stay yang didirikan mantan jurnalis dan Greenfield Book Store. Rekaman media menunjukkan petugas berseragam 'Polisi' menyita kotak-kotak dari Have A Nice Stay. AFP melaporkan seorang wanita diborgol dan dibawa ke mobil polisi. Polisi mengonfirmasi penggerebekan di dua toko tanpa menyebutkan nama. Sehari sebelumnya, Have A Nice Stay mengumumkan penutupan pada 30 Agustus 2026 karena 'ketidakpastian lingkungan sosial' dan kesulitan keuangan.
Tuduhan dan Ancaman Hukuman
Polisi menyatakan penggeledahan dilakukan oleh Departemen Keamanan Nasional setelah bea cukai menemukan buku kiriman internasional yang diduga berisi hasutan. Isi publikasi disebut memicu kebencian terhadap pemerintah, lembaga peradilan, dan penegak hukum. Kelima tersangka terancam hukuman hingga tujuh tahun penjara berdasarkan UU KN 2024, yang merupakan tambahan dari UU 2020 yang diterapkan China setelah demonstrasi prodemokrasi.
Dampak terhadap Industri Buku
Industri toko buku independen Hong Kong terus menyusut sejak UU KN berlaku. Pada Juni 2026, dua pegawai toko buku Hunter ditangkap, dan pada Maret 2026, empat pekerja Book Punch ditahan dengan tuduhan serupa. Penggerebekan ini dipandang sebagai upaya membungkam kebebasan berpendapat.
Kecaman Internasional
Amnesty International dalam pernyataan Rabu (15/7) mengecam penggunaan pasal hasutan untuk menargetkan toko buku. 'Serangan yang meningkat tahun ini terhadap toko buku independen Hong Kong menegaskan kenyataan mengerikan tentang kondisi kota tersebut, tempat di mana Anda dapat dikriminalisasi hanya karena buku yang ada di rak Anda,' ujar Direktur Regional Deputi Amnesty International, Sarah Brooks.
Respons Presiden Taiwan
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, pada Kamis (16/7) menyatakan setiap toko buku independen adalah ruang penting untuk menjaga pemikiran. 'Kami ingin menyampaikan kepedulian dan rasa hormat kami kepada semua toko buku serta pekerja budaya yang terus berdiri teguh dalam situasi sulit. Pemikiran dan tulisan tidak boleh dipenjara karena tekanan politik,' tulis Lai di Facebook. China memandang Taiwan sebagai wilayahnya dan menganggap Lai sebagai 'separatis'.



