Pada konferensi pers Pentagon tentang perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, Selasa (5 Mei 2026), muncul pertanyaan mengejutkan: "Apakah Iran menggunakan lumba-lumba bunuh diri?" Pertanyaan itu diajukan reporter The Daily Wire kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Hegseth menjawab, "Saya tidak bisa konfirmasi atau sangkal lumba-lumba bunuh diri milik kami sendiri, tapi saya bisa konfirmasi mereka tidak punya hal seperti itu." Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, bahkan bercanda, "Ini terdengar seperti cerita hiu dengan sinar laser."
Laporan The Wall Street Journal
Pernyataan itu merujuk artikel The Wall Street Journal berjudul "Iran Is Looking for a Way to Counter a Blockade It Cannot Break" yang terbit lima hari sebelumnya. Surat kabar itu menulis bahwa blokade angkatan laut AS telah menyingkap celah strategi Iran di Selat Hormuz. "Pejabat Iran menyatakan Teheran mungkin menggunakan senjata baru, dari kapal selam hingga lumba-lumba pembawa ranjau," tulis artikel itu. Iran juga mengancam memutus kabel serat optik di Selat Hormuz yang bisa mengganggu internet global.
Sejarah Lumba-lumba Militer Iran
Meski terdengar fantastis, penggunaan lumba-lumba militer sudah puluhan tahun. Pada 8 Maret 2000, BBC melaporkan Iran membeli lumba-lumba bunuh diri. Lumba-lumba itu dilatih Angkatan Laut Soviet dan dijual ke Iran. Boris Zhurid, mantan perwira kapal selam yang menjadi pelatih utama, menjual semua hewan air itu ke Iran karena tak sanggup membiayai pakan dan perawatan. Ia mengatakan kepada Komsomolskaya Pravda, "Jika saya kejam, saya bisa tinggal di Sevastopol. Tapi saya tak tahan melihat hewan saya kelaparan."
Pelatihan Militer Lumba-lumba
Sebanyak 27 hewan, termasuk walrus, singa laut, anjing laut, paus beluga putih, dan lumba-lumba, dipindahkan dari Sevastopol di Krimea ke Teluk Persia dengan pesawat kargo. Empat lumba-lumba dan paus putih telah dilatih di pangkalan Angkatan Laut Rusia di Samudra Pasifik sebelum ke Krimea pada 1991. Mereka belajar menyerang penyelam musuh dengan tombak di punggung, atau menyeret mereka ke permukaan. Lumba-lumba juga mampu membawa ranjau yang meledak saat menyentuh lambung kapal, dan bisa membedakan kapal selam Soviet dan asing dari suara baling-baling.
Penggunaan oleh AS dan Negara Lain
Setelah invasi Irak 2003, Angkatan Laut AS menggunakan lumba-lumba terlatih untuk membersihkan ranjau di Teluk Persia. Selain Rusia, AS juga punya program mamalia laut di San Diego, California. Korea Utara dilaporkan memiliki kandang lumba-lumba yang memicu spekulasi program serupa. Namun, Rusia dan AS masih memiliki program paling maju. Sejak invasi ke Ukraina, Rusia meningkatkan penggunaan lumba-lumba militer di Sevastopol untuk melindungi armada Laut Hitam.
Bantahan Iran
Mantan Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani menulis dalam memoarnya bahwa pada 2 April 2000, ia mengunjungi kolam hewan laut di Pulau Kish. Ia membantah laporan media Barat tentang pelatihan militer untuk memasang ranjau. "Kami mengajukan gugatan dan pengadilan akan segera mengambil tindakan," tulisnya. Rafsanjani menyebut lumba-lumba itu cerdas dan menjalankan perintah pelatih dengan baik, namun saat musik dimainkan, mereka tidak mengikuti. Ia menambahkan, "Ini kemungkinan akan menjadi salah satu daya tarik paling populer di Kish."



