Keluarga Dokter Icha Laporkan 3 Anggota DPRD NTT ke Polisi
Keluarga dr Icha Laporkan 3 Anggota DPRD NTT ke Polda

Keluarga mendiang dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dr Icha resmi melaporkan tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara ke Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat (3/7/2026). Ketiga anggota dewan tersebut dilaporkan atas dugaan intimidasi terhadap almarhumah yang diduga menjadi pemicu kematiannya.

Keluarga Datang ke Polda NTT

Berdasarkan laporan dari Antara, keluarga yang datang untuk membuat laporan meliputi kedua orang tua almarhum, Gabriel Pakaenoni dan Nur Azizah, serta dua adik dr Icha, yaitu Tiara Maharani Dwi Pakaenoni dan Eflin Pakaenoni. Eflin tampak memegang bingkai foto mendiang kakaknya saat berjalan menuju ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda NTT.

Hadir pula Wakil Direktur Tindak Pidana Perempuan dan Anak-Pidana Perdagangan Orang (PPA-PPO) Polda NTT, AKP Samuel Sambolon, yang mendampingi proses pelaporan. Langkah ini menunjukkan keseriusan pihak kepolisian dalam menangani kasus yang menyita perhatian publik tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kronologi Dugaan Intimidasi

Dokter Icha sebelumnya ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri. Kematiannya diduga kuat akibat intimidasi yang dilakukan oleh tiga orang anggota DPRD Timor Tengah Utara pada 13 Juni 2026. Saat itu, dr Icha sedang bertugas sebagai dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona di Kota Kefamenanu.

Menurut keterangan pihak keluarga, ketiga anggota DPRD tersebut diduga melakukan tekanan psikologis terhadap dr Icha hingga ia mengambil tindakan nekat. Kasus ini kemudian viral di media sosial dan menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk politisi dan organisasi profesi dokter.

Polda NTT Bentuk Tim Joint Investigation

Kabid Humas Polda NTT Komisaris Besar Polisi Henry Novika Chandra menyatakan bahwa Polda NTT telah mengambil alih penanganan penyelidikan dugaan intimidasi terhadap dr Icha. Polda membentuk tim joint investigation untuk mengusut perkara secara profesional, objektif, transparan, dan berbasis bukti.

Henry menjelaskan bahwa pembentukan tim tersebut merupakan tindak lanjut hasil asistensi bersama Bareskrim Polri guna memperkuat proses penyelidikan dan penyidikan. "Kapolda NTT menginstruksikan agar penanganan perkara dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan sejumlah fungsi di lingkungan Polda NTT dan Polres jajaran," katanya.

Komitmen Penegakan Hukum

Henry menegaskan bahwa Kapolda NTT juga telah menginstruksikan agar seluruh potensi alat bukti dan fakta hukum didalami secara menyeluruh melalui mekanisme joint investigation. Penanganan perkara ini mengedepankan scientific crime investigation sehingga setiap kesimpulan yang diambil benar-benar didasarkan pada alat bukti yang sah sesuai ketentuan hukum.

"Kami berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini. Tidak ada toleransi bagi pelaku intimidasi, terutama yang menyebabkan korban jiwa," tegas Henry. Polda NTT juga akan berkoordinasi dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk memastikan proses hukum berjalan adil.

Reaksi Publik dan Langkah Selanjutnya

Kasus dr Icha memicu gelombang solidaritas dari masyarakat, terutama kalangan tenaga kesehatan. Banyak yang menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menyatakan akan memberikan sanksi tegas kepada kadernya yang terlibat dalam dugaan intimidasi ini.

Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan mengumpulkan barang bukti. Keluarga berharap kasus ini dapat segera terungkap dan memberikan keadilan bagi dr Icha. "Kami percaya polisi akan bekerja profesional. Kami hanya ingin kebenaran terungkap," ujar Gabriel Pakaenoni, ayah dr Icha.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga