Pasukan Israel menembak mati dua warga Lebanon di Nabatieh al-Fawqa pada Senin (22/6), menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA). Insiden ini merupakan pelanggaran pertama terhadap gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran dalam beberapa hari terakhir.
Kronologi Penembakan
NNA melaporkan bahwa tentara Israel "melepaskan tembakan dengan senapan mesin mereka ke arah mereka saat mereka berdiri di dekat ekskavator yang sedang membuka blokade jalan" di Nabatieh al-Fawqa. Kementerian Kesehatan Lebanon kemudian mengkonfirmasi jumlah korban tewas.
Militer Israel mengklaim pasukannya melepaskan tembakan peringatan ke arah empat militan Hizbullah yang diduga berada di atas buldoser dan sepeda motor, sebelum "tembakan tambahan dilakukan untuk menghilangkan ancaman". Dalam pernyataan terpisah, militer Israel mengatakan "mengidentifikasi sel bersenjata yang beroperasi" di dekat tentara di zona keamanan yang dinyatakan Israel, yang membentang sekitar 10 kilometer di dalam Lebanon.
Reaksi Hizbullah dan Pemerintah Lebanon
Hizbullah mengecam insiden tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata Israel yang "terang-terangan" dan "serangan pengkhianatan". Presiden Lebanon Joseph Aoun menolak pendudukan Israel di Lebanon selatan dan campur tangan asing dalam urusan negaranya, yang merupakan sindiran terhadap Iran.
Insiden ini terjadi saat putaran kelima pembicaraan Israel-Lebanon dimulai di Washington. Sebelumnya, pada hari yang sama, mediator Pakistan dan Qatar mengatakan bahwa Teheran dan Washington sepakat untuk membentuk "sel de-konflik" untuk membatasi peningkatan ketegangan di Lebanon setelah pembicaraan di Swiss tentang mengakhiri perang Timur Tengah yang lebih luas.
Serangan Drone Terpisah
Secara terpisah, NNA melaporkan bahwa "sebuah drone musuh menargetkan sebuah mobil yang diparkir" di pinggiran kota Baraasheet, tanpa segera melaporkan korban jiwa. Belum jelas apakah serangan drone itu terkait dengan insiden penembakan.
Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah rapuh sejak disepakati, dengan beberapa pelanggaran kecil sebelumnya. Namun, insiden mematikan ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.



