Proyek Jet Tempur FCAS Eropa Diambang Restrukturisasi, CEO Airbus Tegaskan Tak Akan Mati
Jet Tempur FCAS Eropa Diambang Restrukturisasi, Airbus Tegaskan Tak Mati

Proyek Jet Tempur FCAS Eropa Diambang Restrukturisasi, CEO Airbus Tegaskan Tak Akan Mati

Michael Schoellhorn, CEO Airbus Defence and Space, secara resmi menyatakan bahwa proyek Future Combat Air System (FCAS)—program jet tempur generasi keenam yang dikembangkan bersama oleh Prancis dan Jerman—tidak akan dibatalkan. Namun, dalam wawancara eksklusif, dia mengakui bahwa restrukturisasi di beberapa bagian proyek memang tak terhindarkan. Pernyataan ini muncul di tengah laporan-laporan yang beredar bahwa proyek senilai €100 miliar (sekitar USD118 miliar) itu berada di ambang kegagalan.

Friksi Antara Airbus dan Dassault Menjadi Tantangan Utama

Schoellhorn, yang perusahaannya merupakan salah satu mitra utama dalam FCAS, menegaskan bahwa proyek ini akan tetap berlanjut. Meski demikian, dia tidak menampik adanya persoalan mendasar dengan mitra Prancis, Dassault Aviation. "Ya, ada persoalan terkait pesawat tempur berawak antara dua perusahaan. Salah satunya perusahaan saya," ujarnya. Dia menambahkan bahwa risiko dalam proyek Eropa berskala besar seperti FCAS bukan hanya soal kemauan politik, tetapi juga keselarasan industri di antara para pemain yang terlibat.

Dalam beberapa pekan terakhir, spekulasi meningkat bahwa FCAS mungkin direstrukturisasi secara radikal atau bahkan dihentikan. Salah satu penyebab utamanya adalah desakan Dassault untuk mempertahankan kendali penuh atas pengembangan jet tempur dalam proyek tersebut. Kedua perusahaan dilaporkan berselisih mengenai spesifikasi teknis, tahap pengembangan, hingga pemilihan pemasok untuk komponen-komponen kritis.

Perbedaan Kebutuhan Militer Jerman dan Prancis Memperumit Situasi

Pada Rabu (18/2), Kanselir Jerman Friedrich Merz memberikan sinyal kuat bahwa rencana membangun jet tempur generasi keenam Eropa bisa saja dihentikan. Dia menilai bahwa rancangan jet saat ini lebih sesuai dengan kebutuhan militer Prancis, yang mencakup kemampuan membawa senjata nuklir generasi berikutnya, ketimbang kebutuhan Bundeswehr Jerman. "Prancis ingin membangun satu model yang sesuai dengan spesifikasi mereka. Tapi itu bukan yang kami butuhkan," tegas Merz.

Nada pesimistis ini sejalan dengan sinyal dari Prancis dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah pejabat Prancis dikutip menyebut bahwa peluang penghentian proyek lebih besar ketimbang peluncuran ulang. Seorang anggota parlemen Prancis bahkan secara terbuka menyatakan, "FCAS sudah mati. Semua orang tahu, tapi tak ada yang ingin mengatakannya." Namun, Menteri Delegasi Urusan Eropa Prancis, Benjamin Haddad, menegaskan komitmen pemerintahnya terhadap FCAS dan optimistis bahwa Dassault dan Airbus dapat duduk bersama untuk melanjutkan kolaborasi.

Restrukturisasi Dapat Memperkuat FCAS di Masa Depan

Schoellhorn meyakini bahwa kelangsungan FCAS tidak harus bergantung pada satu model jet tempur tunggal. Dia menegaskan bahwa restrukturisasi justru dapat memperkuat proyek ini dalam jangka panjang. Dia mencontohkan kolaborasi sukses pan-Eropa dalam pengembangan jet tempur Eurofighter Typhoon, yang melibatkan Airbus, BAE Systems Inggris, dan Leonardo Italia. "Dalam FCAS, kita memang masih berjuang dalam hal kolaborasi," ujarnya. "Namun jika pada akhirnya ada dua jet tempur dalam satu proyek besar dengan berbagai aset lain, itu bukan akhir dunia."

Lebih lanjut, Schoellhorn menekankan bahwa FCAS jauh melampaui sekadar pesawat tempur. Inti dari proyek ini adalah combat cloud, yang mencakup sistem tanpa awak, sensor canggih, dan kemampuan simulasi. Sebagian besar komponen ini dilaporkan berjalan dengan baik, dan Jerman bahkan mulai membahas kemungkinan mengurangi skala proyek dengan fokus pada sistem komando dan kendali berbasis combat cloud, sambil menghapus komponen jet tempur jika diperlukan.

Lanskap Geopolitik yang Berubah Memengaruhi Proyek Pertahanan

Proyek FCAS diluncurkan pada 2017 oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman saat itu Angela Merkel, dengan Spanyol kemudian bergabung. Namun, proyek ini tersendat akibat perselisihan industri dan perbedaan kebutuhan militer. Schoellhorn mengingatkan bahwa FCAS dirancang dalam konteks geopolitik yang berbeda, di mana lanskap pertahanan kini berubah dengan cepat akibat invasi Rusia ke Ukraina. "Kita hidup di dunia yang sepenuhnya berbeda. Kecepatan menjadi kunci," katanya. "Era ketika sesuatu dirancang sangat detail dengan daftar persyaratan panjang dan baru terwujud 15–20 tahun kemudian sudah berlalu."

Dengan peningkatan belanja pertahanan di berbagai negara Eropa, restrukturisasi FCAS dianggap sebagai langkah yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan realitas baru. Diskusi antara pemerintah Prancis, Jerman, dan Spanyol masih berlangsung untuk menentukan langkah berikutnya, dengan harapan bahwa proyek ambisius ini dapat terus berjalan meski dengan penyesuaian yang signifikan.