Teheran kembali menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon pada Jumat (19/6/2026). Serangan udara Israel ke Lebanon Selatan dinilai melanggar perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah ditandatangani pada Rabu (17/6/2026).
Latar Belakang Penutupan Selat Hormuz
Penutupan ini merupakan eskalasi terbaru dalam ketegangan regional. Kesepakatan damai AS-Iran yang baru ditandatangani mencakup penghentian penyerangan secara permanen di semua front, termasuk di Lebanon, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran menuduh Israel melanggar kesepakatan tersebut dengan melancarkan serangan udara ke Lebanon Selatan.
Bantahan dari Militer AS
Sementara itu, klaim Iran dibantah oleh militer AS. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Tim Hawkins, mengatakan bahwa lalu lintas pelayaran masih terus berjalan. “Tidak ada gangguan signifikan terhadap navigasi di Selat Hormuz,” ujar Hawkins dalam pernyataan resmi. Namun, pernyataan ini bertentangan dengan laporan dari beberapa perusahaan pelayaran yang mengaku menerima peringatan dari otoritas Iran.
Dampak Global dan Respons Internasional
Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global, mengingat jalur ini dilalui sekitar 20% minyak dan LNG dunia. Harga minyak mentah langsung melonjak 5% dalam perdagangan awal pekan. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan sidang darurat untuk membahas situasi ini. Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan.



