Iran Klaim Rudal Balistiknya Hantam Kapal Perusak AS di Samudra Hindia
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pasukannya telah meluncurkan serangan rudal terhadap sebuah kapal perusak Amerika Serikat di Samudra Hindia. Serangan ini terjadi pada Rabu, 4 Maret 2026, dengan target yang berada ratusan kilometer dari perbatasan Iran, menurut laporan dari kantor berita Tasnim dan Press TV.
Detail Serangan Rudal Iran
Menurut pernyataan IRGC, kapal perusak AS tersebut sedang mengisi bahan bakar dari kapal tanker Amerika di Samudra Hindia ketika dihantam oleh dua jenis rudal: Ghadr-380 dan Talaeieh. Rudal Ghadr-380 adalah rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer, dirancang untuk serangan presisi dan pengerahan cepat. Sementara itu, rudal Talaeieh merupakan sistem rudal jelajah strategis yang mampu mencapai target hingga 1.000 kilometer, dengan kemampuan untuk mengubah target di tengah misi, meningkatkan fleksibilitas operasionalnya.
Serangan ini dilancarkan oleh pasukan Angkatan Laut IRGC dari jarak lebih dari 600 kilometer dari pantai selatan Iran. Intelijen IRGC menyimpulkan bahwa serangan tersebut memicu kebakaran meluas pada kedua kapal militer, menyebabkan kepulan asap tebal membubung ke langit. Insiden ini menandai eskalasi baru dalam ketegangan militer yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
Latar Belakang Konflik dan Balasan Iran
Serangan rudal ini merupakan bagian dari serangkaian balasan Iran terhadap target-target Israel dan Amerika Serikat, yang dimulai sejak Sabtu, 28 Februari 2026. Rentetan serangan AS-Israel sebelumnya telah menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Laporan terbaru dari Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan bahwa sedikitnya 787 orang tewas akibat gelombang serangan tersebut.
Sebagai respons, Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap berbagai target di Israel dan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk. IRGC mengklaim telah menyerang sejumlah target sensitif dan strategis di wilayah pendudukan Israel, serta kepentingan Amerika di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, yang beroperasi di kawasan itu juga disebut sebagai target potensial dalam serangan lanjutan.
IRGC bertekad untuk melanjutkan serangan hingga mencapai kekalahan total musuh, menegaskan komitmennya dalam konflik yang semakin memanas ini. Situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional, dengan kekhawatiran akan dampak lebih luas pada stabilitas regional.
