Intelijen AS Akui Iran Cepat Perbaiki Bunker Rudal Usai Serangan
Badan-badan intelijen Amerika Serikat (AS) mengakui bahwa Iran memiliki kemampuan luar biasa untuk memperbaiki bunker rudal bawah tanah mereka dengan cepat setelah dihantam serangan udara. Menurut laporan yang dikutip dari New York Times dan Press TV, Teheran mampu memulihkan operasional hanya dalam hitungan jam saja.
Kemampuan Pemulihan yang Mengagumkan
Laporan intelijen AS menyebutkan bahwa agen-agen Iran telah aktif menggali bunker dan silo penyimpanan rudal yang terkena serangan dari AS dan Israel dalam beberapa waktu terakhir. Sejak serangan skala besar pada 28 Februari lalu, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengklaim bahwa Washington telah mencapai kemajuan substansial dalam melemahkan kemampuan rudal Iran.
Pentagon juga mengklaim bahwa pasukan AS telah menyerang sekitar 11.000 target di wilayah Iran. Namun, laporan intelijen justru menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk menggunakan sisa persenjataan rudal balistik dan peluncur rudalnya. Ini termasuk potensi serangan terhadap Israel serta aset dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Kesulitan dalam Menilai Kerusakan
Disebutkan dalam laporan bahwa sulit untuk memperkirakan berapa banyak peluncur rudal Iran yang mungkin berada di dalam bunker atau gua yang dihantam serangan. Bunker, gua, atau silo bawah tanah mungkin tampak rusak pada awalnya; pada kenyataannya, Iran mampu dengan cepat menggali peluncur tersebut dan menembakkannya kembali, demikian bunyi laporan yang dikutip New York Times.
Media Israel, Haaretz, dalam laporan terpisah menambahkan bahwa Iran telah menggunakan buldoser untuk menggali peluncur-peluncur rudal yang terkubur di bawah reruntuhan. Hal ini menunjukkan tingkat ketahanan infrastruktur militer Iran yang tinggi.
Keraguan atas Klaim Pemerintahan Trump
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengklaim bahwa penurunan drastis kemampuan peluncuran rudal Iran merupakan salah satu tujuan utama perang. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membanggakan penurunan jumlah serangan rudal Iran.
Namun, laporan intelijen meragukan klaim pemerintahan Trump bahwa AS sedang menghancurkan kemampuan rudal Iran—yang disebut sebagai tujuan utama dalam perang melawan Iran. Selama lima pekan terakhir, serangan balasan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menyebabkan kerugian miliaran dolar pada aset militer AS di Timur Tengah.
Dampak Konflik yang Meluas
Perang ini telah mengguncang pasar energi dan saham di seluruh dunia, mengganggu pelayaran, dan mengakibatkan korban jiwa di kalangan tentara AS yang ditugaskan di Timur Tengah. Trump sendiri menghadapi tekanan yang semakin besar di dalam negeri untuk segera mengakhiri konflik ini.
Laporan ini menggarisbawahi kompleksitas situasi dan tantangan yang dihadapi AS dalam mencapai tujuan strategisnya di kawasan tersebut, sementara Iran terus menunjukkan ketahanan yang mengesankan dalam mempertahankan kemampuan militernya.



