Evolusi Perang Rusia-Ukraina: Dari Kekacauan 2022 hingga Dominasi Drone 2026
Evolusi Perang Rusia-Ukraina: 2022-2026

Evolusi Perang Rusia-Ukraina: Dari Kekacauan 2022 hingga Dominasi Drone 2026

Para tentara menghabiskan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di killing zone atau zona pembunuhan yang membentang hingga 20 kilometer, diawasi ketat oleh drone musuh. Tidak ada cara untuk mencapai posisi tersebut dengan kendaraan atau mengevakuasi korban terluka, sementara persediaan amunisi dan makanan terus terganggu. Itulah keseharian di garis terdepan perang selama empat tahun invasi Rusia-Ukraina berlangsung, sebagaimana diceritakan personel militer Ukraina kepada Deutsche Welle (DW).

2022: Diwarnai Kekacauan, Perang Darat, dan Senjata dari Barat

Saat tentara mengenang awal invasi, mereka mengingat banyaknya relawan dan antrean panjang di kantor perekrutan, sesuatu yang kini tampak mustahil. "Saya tidak diizinkan bergabung dengan militer sampai September 2022," kata Oleksandr Kashaba, yang saat itu berusia 22 tahun. Stanislav Kotcherha, wakil komandan batalion drone, mengenang kekacauan di front terdepan dengan banyak unit yang tidak berkomunikasi satu sama lain. Kemudian, garis depan mulai stabil dan perang darat dimulai dengan pasukan tempur, tank, dan persenjataan berat sebagai elemen utama, mirip gambaran perang dalam buku. Di tahun yang sama, Ukraina menerima peluncur roket dari barat termasuk HIMARS, yang menurut Vladyslav Urubkov dari yayasan Come Back Alive, menjadi inovasi penentu keberhasilan serangan balik di Kharkiv.

2023: Pesawat Nirawak dan Serangan Balik

Tahun berikutnya, militer Ukraina mulai menggunakan drone quadcopter Mavic buatan Cina untuk pengintaian dan serangan, diikuti drone kamikaze yang banyak digunakan kedua belah pihak sejak musim panas 2023. "Saya beruntung sempat bertugas di infanteri sebelum drone mendominasi," kata Kashaba, yang mencatat perubahan drastis dalam taktik militer. Sebelumnya, evakuasi korban terluka bisa dilakukan dalam beberapa jam, tetapi dengan zona pembunuhan yang meluas, kini membutuhkan beberapa hari, seperti dijelaskan paramedis dengan sebutan 'Kazhan'.

2024: Transformasi Garis Depan

Februari 2024, tentara Rusia maju cepat di Donetsk, sementara kekurangan tentara Ukraina di garis terdepan menjadi jelas. Pengembangan drone berlanjut dengan hexacopter untuk menyerang target dan logistik, serta drone kamikaze yang mengubah perang saat pengiriman peluru artileri barat tertunda. Kotcherha menjelaskan bahwa unit di garis depan harus beradaptasi dengan ancaman drone, menyebabkan peralatan besar seperti tank ditarik mundur hingga 10-15 km dari jangkauan musuh. Akibatnya, pasukan tempur bersembunyi di bawah tanah dan musuh menyusup dalam kelompok-kelompok kecil.

2025: Operasi Kursk dan Robot Darat

Musim panas 2024 ditandai serangan ofensif Kursk, tetapi Ukraina tidak bisa mempertahankan posisinya. Pada musim semi 2025, operasi ofensif Ukraina gagal karena serangan balik Rusia menggunakan drone serat optik yang tahan gangguan. "Pada titik tertentu, Rusia mulai menyerang setiap kendaraan menuju Kursk dengan drone ini," kata Kazhan, sementara jumlah korban terluka menurun karena zona pembunuhan melebar hingga 20-25 km. Teknologi baru seperti bantuan medis via video, pengiriman obat dengan drone, dan robot darat untuk evakuasi mulai digunakan, bersama upaya menghancurkan drone pengintai lawan dengan drone interseptor.

2026: Belum Dapat Dipastikan

Menurut Urubkov, peristiwa paling signifikan awal 2026 adalah pemutusan akses Rusia dari terminal Starlink yang mengganggu komunikasi drone Ukraina. Ia berharap pengembangan teknologi berlanjut untuk mengubah posisi defensif Ukraina. Namun, Kashaba skeptis, berpendapat bahwa perubahan teknologi signifikan sudah terjadi dan jalannya perang kini tergantung pada siapa yang pertama kehabisan tentara yang bisa bertempur di bawah dominasi drone.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Ukraina dan diadaptasi oleh Sorta Caroline, dengan editor Rizki Nugraha.