DPR Apresiasi Pelibatan ASN dalam Pelatihan Komponen Cadangan Pertahanan
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai kebijakan Kementerian Pertahanan yang membuka kesempatan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk berpartisipasi dalam pelatihan Komponen Cadangan (Komcad) patut diapresiasi secara luas. Menurutnya, langkah strategis ini mencerminkan komitmen pemerintah yang kuat dalam melibatkan seluruh elemen bangsa dalam upaya bela negara secara menyeluruh.
Sinergi Birokrasi dan Pertahanan
"Pelibatan ASN dalam pelatihan ini dapat dipahami sebagai upaya memperluas wawasan bela negara sekaligus memperkuat sinergi antara birokrasi dan pertahanan. Sebagai aparatur yang memiliki peran strategis dalam pelayanan publik, ASN dengan bekal pelatihan pertahanan akan lebih memahami pentingnya kesiapsiagaan nasional serta mampu menyalurkan semangat kebangsaan dalam tugas sehari-hari," kata Dave kepada media pada Kamis, 26 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun mentalitas yang siap siaga dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan nasional. Dengan demikian, ASN dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam menyebarkan nilai-nilai pertahanan di lingkungan kerja mereka.
Membangun Kesadaran Kolektif
Dave menjelaskan bahwa semangat utama dari kebijakan ini adalah membangun kesadaran kolektif bahwa pertahanan negara bukan hanya menjadi tanggung jawab militer semata. Setiap warga negara, termasuk ASN, memiliki peran krusial dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa. Pelatihan Komcad bagi ASN diharapkan dapat menciptakan budaya bela negara yang lebih inklusif dan partisipatif.
Kebijakan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertahanan. Dengan melibatkan ASN, diharapkan terjadi pertukaran pengetahuan antara dunia birokrasi dan militer, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan nasional secara holistik.
Pelatihan Komcad untuk ASN rencananya akan dilaksanakan di berbagai pusat pendidikan, termasuk Pusdikkes dan Kodam Jaya, dengan target melatih ribuan aparatur. Langkah ini dianggap sebagai terobosan penting dalam memperkuat sistem pertahanan negara yang lebih responsif dan adaptif terhadap dinamika global.