Departemen Pertahanan Amerika Serikat memperkirakan bahwa pembersihan Selat Hormuz dari ranjau yang dipasang Iran akan memakan waktu hingga enam bulan. Proses ini berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang.
Blokade Iran dan Dampak Global
Iran hampir sepenuhnya memblokir jalur air vital tersebut sejak dimulainya perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini telah memicu lonjakan harga minyak dan gas serta mengganggu stabilitas perekonomian global.
Menurut laporan Al Arabiya English pada Kamis (23/4/2026), selat yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia itu sebagian besar tetap tertutup selama gencatan senjata yang rapuh. Amerika Serikat juga memberlakukan blokade sendiri di kawasan tersebut.
Penilaian Pentagon
Bahkan jika permusuhan berakhir dan blokade dicabut, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membersihkan jalur air dari ranjau. Hal ini berdasarkan penilaian Pentagon yang dilaporkan oleh Washington Post, mengutip pejabat yang mengetahui pembahasan tersebut. Operasi pembersihan kemungkinan besar tidak akan dimulai sebelum perang benar-benar berakhir.
Perkiraan enam bulan tersebut disampaikan kepada anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS dalam sebuah briefing tertutup. Para anggota parlemen diberitahu bahwa Iran mungkin telah menempatkan 20 ranjau atau lebih di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Beberapa ranjau dihanyutkan dari jarak jauh menggunakan teknologi GPS, sehingga lebih sulit dideteksi.
Peringatan Iran
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran telah memperingatkan tentang zona bahaya seluas 1.400 kilometer persegi, 14 kali ukuran Paris, di mana ranjau-ranjau mungkin berada. Ketua parlemen Iran menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan membuka kembali selat tersebut selama blokade angkatan laut AS masih berlaku.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan kelanjutan krisis energi global dan ketidakstabilan ekonomi di berbagai negara.



