AS Siap Kerahkan Drone Kamikaze LUCAS Jika Serang Iran, Hanya Rp 586 Juta per Unit
AS Siap Kerahkan Drone Kamikaze LUCAS Jika Serang Iran

AS Siap Kerahkan Drone Kamikaze LUCAS Jika Serang Iran, Hanya Rp 586 Juta per Unit

Washington DC - Amerika Serikat (AS) telah melaporkan kesiapan unit drone kamikaze pertamanya untuk dikerahkan, jika Presiden Donald Trump memutuskan melancarkan serangan militer terhadap Iran. Drone kamikaze AS yang memiliki kemampuan dalam serangan satu arah yang mematikan ini, juga bisa digunakan untuk misi pengintaian di wilayah konflik.

Kesiapan Operasional dan Pernyataan Resmi

Kesiapan pengerahan drone kamikaze AS itu, seperti dilansir Al Arabiya pada Jumat (27/2/2026), dilaporkan oleh media terkemuka Bloomberg. Hal ini diumumkan setelah juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengonfirmasi kesiapan unit drone tersebut untuk beroperasi penuh.

Unit drone kamikaze buatan SpektreWorks yang berbasis di Arizona itu, dikenal sebagai Satuan Tugas Scorpion. Ini merupakan pengembangan dari unit drone eksperimental militer AS yang telah melalui berbagai tahap uji coba. Hawkins menegaskan dalam pernyataan via email kepada Bloomberg bahwa unit drone tersebut sekarang benar-benar siap beroperasi.

"Kami membentuk skuadron ini pada tahun lalu untuk dengan cepat melengkapi prajurit kami dengan kemampuan drone tempur terbaru yang terus berkembang," kata Hawkins dalam pernyataannya. Pernyataan ini menegaskan komitmen AS dalam modernisasi persenjataan militernya.

Bagian dari Pengerahan Militer Besar-besaran

Unit drone serangan satu arah ini menjadi bagian integral dari pengerahan militer besar-besaran AS di kawasan Timur Tengah. Pengerahan ini diperintahkan langsung oleh Presiden Trump untuk menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan tentang program nuklirnya yang kontroversial.

Perundingan AS dan Iran sendiri baru saja dilanjutkan di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2). Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kedua pihak telah mencapai kemajuan yang cukup baik. Ia juga menyebutkan bahwa putaran perundingan terbaru dapat digelar "segera" dalam waktu dekat.

Uji Coba dan Spesifikasi Drone LUCAS

Salah satu drone kamikaze telah berhasil diuji coba di kawasan Teluk pada pertengahan Desember tahun lalu. Peluncuran dilakukan dari dek penerbangan kapal USS Santa Barbara, salah satu kapal tempur pesisir yang dikerahkan ke kawasan sebagai bagian dari armada AS.

Drone dengan nama resmi "Sistem Serangan Tempur Tak Berawak Berbiaya Rendah" atau disingkat LUCAS ini, menurut perkiraan CENTCOM, berharga sekitar US$ 35.000 atau setara dengan Rp 586,9 juta per unit. Harga yang relatif murah ini menjadi salah satu keunggulan utamanya.

Drone LUCAS yang ringan dan gesit ini dapat diluncurkan untuk berbagai misi, termasuk:

  • Serangan satu arah yang mematikan
  • Misi pengintaian dan pengawasan
  • Serangan maritim terhadap target laut
  • Berbagai tugas taktis lainnya

Menurut CENTCOM, drone tersebut memiliki "jangkauan yang luas dan dirancang untuk beroperasi secara otonom" tanpa memerlukan kendali manusia secara terus-menerus.

Analisis dan Signifikansi Strategis

Analis pertahanan dari Forecast International, Anna Miskelley, memberikan penilaian mendalam tentang pengerahan unit drone kamikaze ini. Ia menilai bahwa pengerahan tersebut menandai "pergeseran dari ketergantungan militer AS pada platform bernilai jutaan dolar seperti MQ-9 Reaper".

"Platform mahal seperti Reaper semakin sulit untuk dibenarkan penggunaannya dalam konflik atrisi tinggi yang berbasis kawanan," tambah Miskelley. Pernyataan ini menggarisbawahi perubahan strategi militer AS menuju sistem persenjataan yang lebih terjangkau dan massal.

Meskipun unit drone kamikaze ini hanyalah bagian kecil dari pengerahan militer yang lebih luas, keterlibatannya dalam aksi militer mendatang akan menjadi yang pertama bagi unit yang baru dibentuk ini. Hal ini memiliki signifikansi khusus dalam validasi kemampuan tempur baru AS.

Mandat Percepatan dan Teknologi Rekayasa Balik

Penggunaan drone kamikaze ini juga dapat memvalidasi mandat Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mempercepat penggunaan pesawat tanpa awak oleh militer AS. Kebijakan ini bagian dari upaya modernisasi pertahanan nasional yang lebih efisien.

Pada sisi teknologi, fakta menarik terungkap bahwa drone kamikaze LUCAS merupakan hasil rekayasa balik dari drone Shahed-136 buatan Iran. Ini menunjukkan bahwa AS masih berusaha mengejar ketertinggalan teknologi drone, setelah pasukan Rusia dan Iran selama bertahun-tahun menggunakan drone kamikaze untuk menyerang berbagai target di medan perang.

Pengembangan drone LUCAS melalui rekayasa balik ini mencerminkan perlombaan teknologi militer global yang semakin ketat. AS berusaha tidak hanya mengejar, tetapi juga mengungguli kemampuan drone yang telah dimiliki oleh negara-negara seperti Iran dan Rusia.