AS dan Korsel Bahas Pemindahan Rudal Patriot ke Timur Tengah untuk Hadapi Iran
AS-Korsel Bahas Pindahkan Rudal Patriot untuk Lawan Iran

AS dan Korsel Bahas Pemindahan Rudal Patriot ke Timur Tengah untuk Hadapi Iran

Seoul - Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) saat ini sedang mengadakan pembahasan intensif mengenai kemungkinan pemindahan beberapa unit sistem pertahanan rudal Patriot milik AS yang saat ini ditempatkan di wilayah Korsel. Rencana ini bertujuan untuk mengalihkan sistem pencegat rudal tersebut ke kawasan Timur Tengah, di mana mereka akan digunakan dalam konflik militer yang sedang berlangsung melawan Iran.

Pernyataan Menlu Korsel dan Respons AS

Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, mengungkapkan informasi ini ketika menjawab pertanyaan dalam sidang parlemen nasional, seperti dilaporkan oleh kantor berita Reuters pada hari Jumat tanggal 6 Maret 2026. Pernyataan ini muncul menyusul laporan media yang menyebutkan bahwa unit sistem pencegat rudal AS telah dipindahkan ke Pangkalan Udara Osan dari berbagai lokasi lain di seluruh semenanjung Korea.

Cho dengan hati-hati menyatakan bahwa dirinya tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut ketika ditanya secara spesifik apakah rencana AS tersebut melibatkan pemindahan segera sistem rudal Patriot untuk digunakan dalam perang melawan Iran. Dia menegaskan bahwa Seoul belum menerima permintaan bantuan militer apa pun dari Washington terkait hal ini.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Laporan Media dan Peningkatan Ketegangan

Laporan media yang mengutip sumber-sumber pemerintah Korea Selatan mengindikasikan bahwa sistem rudal Patriot sedang dipersiapkan untuk dikerahkan ulang di kawasan Timur Tengah. Beberapa pesawat angkut militer AS berukuran jumbo dilaporkan telah terbang menuju Pangkalan Udara Osan dengan tujuan memfasilitasi pemindahan aset militer tersebut.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah meningkat secara signifikan setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran sejak Sabtu 28 Februari waktu setempat, dengan operasi militer yang terus berlanjut hingga saat ini. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk melumpuhkan program nuklir dan kemampuan rudal balistik Teheran.

Sebagai respons, Iran telah membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk. Serangan drone Iran yang menghantam pangkalan AS di Kuwait dilaporkan telah menewaskan sedikitnya enam tentara Amerika.

Pernyataan Pasukan AS di Korea dan Konteks Strategis

Dalam pernyataan terpisah, Pasukan AS di Korea (USFK) menyatakan bahwa mereka tidak dapat mengomentari laporan media mengenai pemindahan sistem rudal Patriot tersebut. "Untuk alasan keamanan operasional, kami tidak berkomentar tentang pergerakan, relokasi, atau potensi penempatan ulang kemampuan atau aset-aset militer tertentu," demikian bunyi pernyataan resmi USFK.

Korea Selatan menjadi tuan rumah bagi kehadiran militer AS dalam jumlah besar di wilayahnya, yang merupakan bagian dari pertahanan gabungan melawan Korea Utara (Korut) yang diketahui memiliki senjata nuklir. Sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan di Korsel, bersama dengan berbagai sistem pertahanan udara-ke-permukaan, termasuk sistem pencegat rudal Patriot yang menjadi bahan pembahasan.

Presiden Trump sebelumnya telah menyatakan kesediaannya untuk menerima bantuan dari negara mana pun terkait konflik dengan Iran, yang menambah dimensi diplomatik pada diskusi pemindahan rudal ini. Pembahasan antara AS dan Korsel mencerminkan dinamika kompleks aliansi militer dan prioritas strategis global di tengah eskalasi konflik regional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga