AS Kerahkan Kapal Induk dan Pesawat Tempur Dekat Iran, Ketegangan Memanas
AS Kerahkan Kapal Induk dan Pesawat Tempur Dekat Iran

Ketegangan AS-Iran Meningkat dengan Pengerahan Militer Besar-besaran

BBC Verify telah memastikan bahwa Amerika Serikat mengerahkan aset militer signifikan di dekat Iran, termasuk dua kapal induk dan puluhan pesawat tempur, dalam konteks tekanan Washington terhadap program militer dan aksi mematikan terhadap demonstran di Iran. Pergerakan ini terjadi selagi perundingan putaran kedua antara pejabat AS dan Iran berlangsung di Swiss pada Selasa (17/02).

Pergerakan Kapal Induk dan Pesawat Tempur AS

USS Gerald R Ford, kapal perang terbesar di dunia, mengaktifkan sistem identifikasi otomatis (AIS) pada Rabu (18/02) selama 48 menit di Samudra Atlantik, menampilkan posisinya menuju Laut Mediterania. Kapal induk ini membawa lebih dari 5.600 personel dan puluhan pesawat. Sementara itu, USS Abraham Lincoln teridentifikasi melalui citra satelit di lepas pantai Oman, sekitar 700 km dari Iran, pada Sabtu (14/02). Kehadiran kedua kapal ini menandai pengerahan militer besar-besaran di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir.

BBC Verify melacak total 12 kapal AS di kawasan, termasuk kapal perusak bersenjata rudal kendali dan kapal khusus untuk operasi tempur. Selain itu, terjadi peningkatan pergerakan pesawat AS menuju pangkalan udara di Eropa dan Timur Tengah, seperti jet tempur F-35 dan F-22, pesawat tanker pengisian bahan bakar, serta pesawat komando E-3 Sentry.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Respons Iran dengan Unjuk Kekuatan

Sebagai respons, Iran menggelar latihan maritim di Selat Hormuz pada Senin (16/02), yang dipimpin oleh Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC). Latihan ini melibatkan peluncuran rudal dan partisipasi unit angkatan laut reguler serta IRGC. Selat Hormuz merupakan jalur krusial untuk transit minyak global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewatinya. Iran juga melakukan latihan gabungan dengan Rusia di Laut Oman, termasuk simulasi operasi penyelamatan kapal.

Analisis Pakar dan Perbandingan dengan Operasi Sebelumnya

Justin Crump, CEO perusahaan intelijen risiko Sibylline, menyatakan bahwa pengerahan militer AS saat ini menunjukkan kedalaman dan daya tahan yang lebih besar dibandingkan dengan operasi sebelumnya, seperti penangkapan mantan presiden Venezuela Nicolas Maduro atau serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Ia menambahkan bahwa konfigurasi ini memungkinkan AS melakukan hingga 800 sortie per hari, dirancang untuk menopang operasi berkepanjangan dan mengantisipasi respons Iran, termasuk potensi serangan terhadap Israel.

Presiden Donald Trump menyatakan pada Kamis (19/02) bahwa dunia akan mengetahui dalam 10 hari ke depan apakah AS mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan militer. Situasi ini meningkatkan ketegangan di kawasan, dengan risiko konflik yang dapat mempengaruhi stabilitas global dan pasokan energi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga