AS Hancurkan Pusat Komando Garda Revolusi Iran dalam Serangan Terkoordinasi
AS Hancurkan Pusat Komando Garda Revolusi Iran

AS Hancurkan Pusat Komando Garda Revolusi Iran dalam Serangan Terkoordinasi

Pasukan militer Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menghancurkan pusat komando Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam serangan terbaru terhadap negara tersebut. Washington juga menyatakan bahwa pertahanan udara dan lokasi peluncuran rudal Teheran telah dihancurkan dalam operasi militer yang intensif.

Gelombang Serangan Terkoordinasi AS-Israel

AS dan Israel melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap Iran sejak Sabtu (28 Februari) waktu setempat. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk. Aksi saling serang ini masih berlanjut hingga kini, menciptakan ketegangan tinggi di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, seperti dilansir Al Arabiya pada Selasa (3 Maret 2026), mengumumkan target-target di Iran yang berhasil dihancurkan oleh serangan pasukannya dalam beberapa waktu terakhir. "Pasukan AS telah menghancurkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, kemampuan pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, dan lapangan terbang militer selama operasi berkelanjutan," kata CENTCOM dalam pernyataan via media sosial X pada Selasa (3 Maret).

Korban dan Balasan Iran

Sejak Sabtu (28 Februari), pasukan AS dan Israel telah menyerang ratusan target di berbagai wilayah Iran, termasuk menargetkan rudal, angkatan laut, dan lokasi komando dan kendali militer negara tersebut. Rentetan serangan Washington dan Tel Aviv itu menewaskan sejumlah tokoh penting dan pejabat tinggi Teheran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Komandan Garda Revolusi Iran Mohammad Pakpour dan Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh juga tewas dalam serangan AS-Israel. Balasan yang diberikan Iran cukup luas, dengan negara-negara Teluk Arab yang menampung pasukan dan aset militer AS, seperti Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), menjadi sasaran serangan rudal dan drone.

Sedikitnya empat tentara AS dilaporkan tewas akibat serangan pembalasan Iran. Sementara itu, tiga jet tempur AS ditembak jatuh di Kuwait, dalam insiden yang disebut sebagai "friendly fire" di mana sistem pertahanan udara Kuwait yang menjatuhkan jet-jet tempur sekutunya itu. Teheran juga melancarkan serangan balasan terhadap target-target di wilayah Israel, yang memaksa warga sipil setempat mencari tempat perlindungan.

Ketegangan ini menunjukkan eskalasi konflik yang signifikan, dengan kedua belah pihak terus meningkatkan intensitas serangan. Situasi ini mengundang kekhawatiran internasional atas stabilitas keamanan di Timur Tengah dan potensi dampak global dari konflik yang berkepanjangan.