Aksi Teatrikal Unair Kritiskan Latihan Militer Kopdes Tewaskan Lima Peserta
Aksi Teatrikal Unair Kritiskan Latihan Militer Kopdes

Seratusan mahasiswa dan civitas academica Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang tergabung dalam Ksatria Airlangga menggelar aksi simbolik pada Sabtu (4/7) malam di Amphitheater Unair B. Aksi ini merupakan bentuk duka cita atas meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang gugur saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).

Korban Tewas Termasuk Alumnus Unair

Kelima korban yang tewas adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. Anisa Muyassaroh diketahui merupakan alumnus Unair. Dalam aksi tersebut, peserta menyalakan lilin, menaburkan bunga di depan diorama foto kelima korban, serta melakukan pembacaan puisi, teatrikal, orasi, dan pernyataan sikap di mimbar bebas.

"Kepada kakak kami yang telah pergi, maafkan kami, karena kami tidak bisa mengembalikan detak jantungmu," kata salah satu penampil saat membacakan puisi. Suasana haru menyelimuti acara, di mana peserta juga memanjatkan doa dalam bahasa Jawa Krama sebagai penghormatan terakhir. "Swargi langgeng, swargi langgeng," ucap salah satu mahasiswa.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Empat Tuntutan Mahasiswa

Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Unair, Shintya Iftitah, menjelaskan bahwa aksi tersebut lahir dari keresahan mahasiswa atas tragedi yang menimpa lima calon manajer KDMP. "Aksi hari ini berangkat dari keresahan teman-teman Unair ya. Kami keluarga besar Universitas Airlangga tentunya berdukacita terhadap salah satu saudari kami, alumni Unair sendiri, yaitu Mbak Anisa Muyassaroh dan mungkin empat rekan lainnya yang menjadi korban dari latihan dasar militer, calon manajer KDMP," ujar Shintya.

Setidaknya ada empat tuntutan utama yang disuarakan dalam aksi tersebut. Pertama, mereka meminta pemerintah transparan terhadap kronologi dan penyebab kematian lima korban. "Kita menuntut untuk adanya transparansi kronologi kenapa pada akhirnya latihan dasar militer ini bisa memakan lima korban sekaligus," kata Shintya. Kedua, mereka mendesak adanya investigasi independen di luar institusi penyelenggara Latsarmil. Ketiga, pertanggungjawaban pemerintah atas kejadian tersebut. Keempat, evaluasi total terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun KDMP.

Shintya juga mempertanyakan keterlibatan Kementerian Pertahanan dalam program yang semestinya berada di bawah Kementerian Koperasi. "Kita tahu bahwa Koperasi Desa Merah Putih itu kan di bawah Kementerian Koperasi, tapi kenapa Kementerian Pertahanan dan juga TNI pada akhirnya masuk? Ada intrik apa di situ?" tuturnya.

Kemhan Hentikan Latsarmil dan Ubah Konsep

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah memangkas durasi pelatihan dan mengubah konsep usai lima peserta meninggal dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan mengatakan pihaknya melakukan evaluasi, di antaranya merevisi program menjadi pelatihan bela negara. "Semula mereka juga akan menjadi komponen cadangan, kami sudah tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan Bela Negara," kata Donny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7).

Dengan revisi itu, Donny mengatakan para peserta tidak lagi mendapat pelajaran terkait senjata atau taktik militer. "Jadi mereka hanya diberikan pelajaran terkait dengan nasionalisme, terkait dengan patriotisme, terkait dengan disiplin ya, jadi seperti mengikuti jadwal harian itu juga melatih disiplin waktu mereka juga," katanya. Shintya menyayangkan masuknya unsur militer ke ranah sipil, meski Latsarmil telah dihentikan dan digantikan dengan materi Pendidikan Bela Negara dan manajerial.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga