Jakarta, CNN Indonesia -- Upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan sejumlah prasyarat penting, termasuk keberadaan visi nasional yang berkelanjutan. Visi tersebut menjadi fondasi agar arah pembangunan tetap konsisten dan berjalan sesuai rencana.
Pernyataan Wamendagri Bima Arya
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto saat menjadi pembicara pada acara Student Day Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Taman Bukit Palem Resort, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (6/6). Kegiatan dihadiri Rektor Universitas Pakuan Didik Notosudjono, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan Sri Setyaningsih, serta jajaran civitas academica Universitas Pakuan.
Bima Arya menyatakan, "Cerita tentang negara maju adalah cerita tentang keberlanjutan." Ia menjelaskan bahwa negara maju seperti Singapura mencapai kemajuan karena menjalankan visi pembangunan yang berkelanjutan. Bima berharap para pemimpin, khususnya kepala daerah, dapat menerapkan prinsip yang sama.
Perubahan Arah Pembangunan Daerah
Secara khusus, Bima menyoroti masih adanya perubahan arah pembangunan di sejumlah daerah setiap kali terjadi pergantian kepala daerah. Selain visi yang berkelanjutan, ia menilai kemandirian juga menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan bangsa. Menurutnya, kemandirian perlu ditopang oleh kepemimpinan yang efektif agar roda pemerintahan dapat berjalan optimal.
Bima menegaskan, "Bahwa, mau kita punya banyak orang pintar, banyak orang hebat, demokrasinya diagungkan, tapi kalau pemerintahan enggak jalan, useless. Kita enggak akan ke mana-mana."
Kolaborasi dan Inovasi
Bima menekankan pentingnya penguatan kolaborasi dan inovasi dalam pembangunan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan keterlibatan aktif berbagai pihak. Untuk itu, ia mengapresiasi Universitas Pakuan yang menyelenggarakan kegiatan dengan tema inovatif, kolaboratif, dan berdaya saing.
Geopolitik Global dan SDM
Lebih lanjut, Bima mengingatkan bahwa meningkatnya tensi geopolitik global perlu menjadi perhatian para pemimpin daerah. Menurutnya, perkembangan situasi internasional memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat di dalam negeri.
"Karena uncertain geopolitik ini, berdampak pada dolar, berdampak ke minyak, dan lain-lain. Jadi nomor satu, geopolitics matters," tambahnya.
Selain memahami dinamika geopolitik, kepala daerah juga didorong untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di wilayah masing-masing. Bima menilai SDM yang berkualitas memegang peranan penting dalam memperkuat kinerja birokrasi daerah. Namun demikian, kualitas SDM juga perlu didukung oleh strategi pemerintahan yang tepat.
"Masalahnya adalah strategi tepat atau enggak? Only time will tell, jadi strategi ini adalah risiko para pemimpin," pungkas Bima.



