Tarif 20% Trump di Selat Hormuz Diejek Iran dan Dikritik Presiden Brasil
Tarif Trump 20% di Selat Hormuz Diejek Iran, Dikritik Brasil

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif hingga 20% bagi semua kargo yang melintasi Selat Hormuz, seiring dengan dimulainya blokade Angkatan Laut AS di wilayah tersebut. Pengumuman yang disampaikan melalui platform Truth Social pada Selasa (14/7/2026) ini langsung menuai ejekan dari Iran dan kritik tajam dari Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva.

Blokade Angkatan Laut AS dan Tarif Trump

Joint Maritime Information Centre (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran akan diberlakukan mulai pukul 20.00 GMT pada 14 Juli, atau 03.00 WIB pada 15 Juli 2026. Keputusan ini telah mendapat persetujuan langsung dari Trump. Blokade mencakup seluruh wilayah pesisir selatan Iran, termasuk pelabuhan dan terminal minyak utama.

JMIC menegaskan bahwa langkah ini tidak akan menghambat pelayaran kapal netral yang melintasi Selat Hormuz menuju atau dari tujuan non-Iran. Pengiriman bantuan kemanusiaan tetap diizinkan setelah melalui proses pemeriksaan. Namun, kapal-kapal yang dicurigai membantu kapal lain menghindari blokade dengan melakukan transfer muatan antarkapal akan dikenai pemeriksaan di atas kapal. Aturan tersebut mencakup tindakan melumpuhkan atau bahkan menghancurkan kapal yang tidak mematuhi perintah pasukan blokade.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dalam pernyataannya, Trump menulis, "Selat Hormuz terbuka dan akan tetap terbuka, dengan atau tanpa Iran. Kami memberlakukan kembali blokade Iran." Ia menambahkan bahwa tarif 20% itu merupakan bentuk penggantian biaya atas operasi militer AS dalam mengamankan Selat Hormuz dari pasukan Iran. "AS akan mendapatkan penggantian biaya, sebesar 20% dari semua kargo yang dikirim, untuk segala biaya yang diperlukan guna menjamin keselamatan dan keamanan di wilayah dunia yang sangat rawan konflik ini," ujarnya.

Iran Mengejek Tarif Trump

Pemerintah Iran langsung merespons ancaman tarif tersebut dengan ejekan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, melalui media sosial X, menyebut tarif 20% terlalu tinggi. Ia bahkan menawarkan tarif yang lebih rendah untuk perlintasan aman di Selat Hormuz. "Potus benar sekali. Siapa pun yang menjamin pelayaran aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz patut mendapatkan imbalan atas layanan tersebut," tulis Araghchi, merujuk pada akronim President of the United States. "Iran senantiasa menjadi penjaga selat ini dan akan tetap demikian selamanya. Tarif 20% tentu saja terlalu tinggi. Kami akan bersikap adil," imbuhnya.

Pernyataan Araghchi ini menegaskan kembali klaim lama Iran bahwa mereka memegang peran sentral dalam menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Sebelumnya, Iran telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada 12 Juli dan meluncurkan rudal serta drone ke negara-negara tetangga di Teluk sebagai balasan atas serangan AS.

Presiden Brasil Kritik Keras

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva turut mengkritik kebijakan Trump. Dalam pidato di Sao Paulo pada Senin (13/7) waktu setempat, Lula menyatakan, "Dulu, itu disebut pembajakan. Negara besar seperti Amerika Serikat, yang saya yakini telah lama memerangi pembajakan, tidak bisa menjadi bajak laut sendiri sekarang." Kritik ini disampaikan di hadapan publik Brasil dan dilansir oleh kantor berita AFP pada Selasa (14/7).

Langkah Trump ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sudah memanas akibat konflik antara AS dan Iran. Blokade dan tarif baru berpotensi mengganggu rantai pasokan global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dan kargo internasional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga