Seskab Teddy Jawab Kritik Dino Patti Djalal soal Kunker Prabowo
Seskab Teddy Buka Suara soal Kritik Dino Patti Djalal

Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol TNI Teddy Indra Wijaya akhirnya buka suara menanggapi kritik dan masukan dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Kritik tersebut menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto.

Tanggapan Teddy atas Kritik Dino

Teddy mengapresiasi masukan dari Dino yang dinilainya cermat dan terstruktur. Ia menyebut Dino sebagai diplomat hebat meski hanya menjabat Wamenlu selama tiga bulan. "Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," ujar Teddy melalui akun Instagram Sekretariat Presiden, Senin (1/6).

Teddy menegaskan bahwa kritik dan masukan tetap penting selama tidak mengaburkan fakta. Ia kemudian memaparkan empat poin utama untuk merespons sorotan Dino, mencakup biaya perjalanan, jumlah rombongan, penjadwalan, dan frekuensi kunjungan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Biaya Perjalanan Ditanggung Pribadi Presiden

Mengenai biaya perjalanan, Teddy menjelaskan bahwa segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan negara sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo. Hal ini sudah dijelaskan berkali-kali kepada publik.

Jumlah Rombongan Dikurangi Hampir 50 Persen

Teddy juga menyoroti pengurangan jumlah rombongan kunjungan luar negeri. "Kalau dulu sekali keluar negeri bisa lebih dari 120 orang—zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Pak Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," tegasnya. Pengurangan ini mencapai hampir 50 persen dibanding periode pemerintahan sebelumnya.

Penjadwalan dan Frekuensi Kunjungan

Teddy menjelaskan bahwa Prabowo menjadi presiden di tengah dinamika global yang penuh konflik. Oleh karena itu, menjalin hubungan dengan pemimpin dunia menjadi keharusan. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik," katanya. Ia menambahkan bahwa kedekatan pribadi dan emosional antar pemimpin sangat diperlukan, baik secara langsung maupun tertutup.

Hasil Konkret Diplomasi Prabowo

Teddy membantah tudingan bahwa kunjungan luar negeri Prabowo hanya bersifat seremonial. Ia menyebut tudingan tersebut "salah besar" dan membeberkan sejumlah hasil konkret diplomasi selama 1,5 tahun terakhir.

  • Kerja Sama BRICS: Keanggotaan Indonesia di BRICS membuat stok BBM dan pangan tetap aman di tengah konflik global, termasuk setelah serangan AS dan Israel ke Iran.
  • Tarif 0 Persen dari Uni Eropa: Kesepakatan tarif nol persen baru terwujud di era Prabowo pada 2025.
  • Investasi Masuk: Total investasi mencapai sekitar Rp2.430 triliun berdasarkan data BKPM. Contohnya, kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan bulan lalu menghasilkan investasi sekitar Rp575 triliun.
  • Alutsista dan Haji: Penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista), penyelenggaraan haji, serta terwujudnya perkampungan haji RI di Tanah Suci.
  • Bantuan Palestina: Peran aktif Indonesia dalam membantu Palestina.

"Itu adalah hasil konkret nyata 1,5 tahun terakhir. Dan, semua itu adalah hasil diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo lewat berbagai cara baik dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan," sambung Teddy.

Kritik Dino Patti Djalal

Sebelumnya, Dino Patti Djalal menyampaikan kritik melalui unggahan Instagram yang ditujukan kepada Prabowo. Ia mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangan mengenai politik luar negeri. Dino menilai frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo tidak lazim dan di luar batas kewajaran.

"Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri. Semenjak menjabat menjadi presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri," ujar Dino dalam video, Sabtu (30/5).

Dino juga menyoroti besarnya biaya negara yang dikeluarkan, mencakup tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokol, pengamanan, hingga uang harian delegasi. Ia menyarankan Prabowo untuk lebih mengandalkan komunikasi virtual seperti video call atau telepon untuk menjaga hubungan dengan pemimpin dunia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga