Said Abdullah Tegaskan PDIP Tak Akan Tinggalkan NU, Serukan Politik Jujur di Era Digital
Said Abdullah: PDIP Tak Akan Tinggalkan NU, Serukan Politik Jujur

Said Abdullah Tegaskan PDIP Tak Akan Tinggalkan NU, Serukan Politik Jujur di Era Digital

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan komitmen kuat partainya untuk terus bersama Nahdlatul Ulama (NU) dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, khususnya di wilayah Jawa Timur. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang digelar di Surabaya pada Minggu, 12 April 2026.

Dalam pidatonya, Said Abdullah menekankan bahwa hubungan antara PDIP dan NU bukan sekadar kedekatan politik semata, melainkan memiliki akar sosial dan ideologis yang mendalam. "PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU," tegasnya dengan penuh keyakinan.

Irisan Kepentingan antara Santri dan Nasionalis

Said Abdullah menjelaskan bahwa masyarakat Jawa Timur sejak lama dikenal dengan basis "Ijo-Abang", yang merujuk pada kelompok santri yang merepresentasikan kekuatan NU dan kelompok abangan yang identik dengan kekuatan nasionalis seperti PDIP. Namun, ia mengungkapkan bahwa pembelahan sosial ini kini semakin mencair.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Di berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku NU ternyata banyak menyalurkan suaranya ke PDI Perjuangan," ujarnya. Hal ini menunjukkan adanya irisan kepentingan dan perjuangan antara kelompok santri dan nasionalis, yang menurut Said, merupakan perkembangan positif dalam dinamika politik lokal.

Lebih lanjut, Said menyoroti kesamaan nasib antara kelompok santri dan abangan yang masih menghadapi persoalan sosial serupa. "Santri dan abangan ini hanya beda sehelai bulu. Tapi nasibnya sama—sama-sama miskin, sama-sama tertinggal dari sisi pendidikan, dan sama-sama kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak," ucapnya dengan nada prihatin.

Adopsi Nilai Islam Wasathiyah

Said Abdullah juga menegaskan bahwa PDIP mengadopsi nilai-nilai Islam Wasathiyah yang menjadi ciri khas NU, yakni Islam yang moderat, adil, dan toleran. "Islam Wasathiyah ini menjadi pedoman langkah-langkah politik PDI Perjuangan. Kita menolak Islam dihadirkan secara menakutkan, terutama di hadapan kelompok minoritas, padahal mereka saudara sebangsa sendiri. Keislaman kita harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian," kata Said.

Ia menyambut positif keterlibatan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama yang menjadikan PDIP sebagai rumah politik, seperti Gus Wahab di Jawa Timur hingga Abdullah Azwar Anas di tingkat pusat. Said berharap lebih banyak kiai, gus, bu nyai, dan ning ikut ber-ijtihad politik bersama PDIP, sekaligus membawa nilai dakwah dalam kehidupan berbangsa.

Kritik terhadap Maraknya Kepalsuan di Media Sosial

Dalam kesempatan yang sama, Said Abdullah turut menyinggung fenomena maraknya kepalsuan di era digital, terutama di media sosial. "Kita memasuki era post-truth. Keadaan kita mengalami kesusahan untuk membedakan benar salah, kejujuran dan kebohongan, otentisitas dan kepalsuan," ujarnya dengan nada serius.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan dan mengajak seluruh kader serta masyarakat untuk menjaga nilai kejujuran dan memperkuat silaturahmi, sebagaimana semangat Halal Bihalal. "Sering-sering bertabayun, menjaga silaturahmi, dan membuka hati. Dalam berpolitik juga harus konsisten, adil, dan tidak menghasut," tegasnya.

Said Abdullah memastikan bahwa PDI Perjuangan akan terus berpegang pada nilai-nilai tersebut dalam menjalankan perjuangan politik ke depan, sambil menghormati tradisi halal bihalal yang digagas oleh pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, bersama Soekarno sebagai upaya merajut persatuan bangsa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga