Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya suatu bangsa untuk terus belajar dari sejarah saat berpidato di Rapat Paripurna ke-19 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan bahwa ada pepatah yang menyebut mereka yang tidak pernah belajar dari sejarah akan dihukum oleh sejarah dan terpaksa mengulangi kesalahan yang sama seperti para pendahulu mereka.
Peringatan Prabowo tentang Sejarah Bangsa
"Ada satu adagium, bahwa mereka yang tidak belajar dari sejarah, akan dihukum oleh sejarah. Akan mengulangi sejarah kelam yang sama yang dialami nenek moyang mereka," ujar Prabowo. Ia menambahkan bahwa fenomena ini telah banyak dialami oleh berbagai bangsa dan negara di dunia. Menurutnya, para pendiri Bangsa Indonesia menyadari bahwa jika kepemimpinan lemah dan tidak bersatu, kekayaan Nusantara akan diambil alih oleh kekuatan asing.
Fakta Sejarah Belanda dan Nusantara
Prabowo memaparkan fakta sejarah bahwa Belanda, sejak tahun 1500 hingga 1800, memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita tertinggi di dunia selama periode tersebut. Padahal, Belanda adalah negara kecil yang pernah menjajah Indonesia. "Mereka menguasai wilayah yang sekarang Republik Indonesia. Saudara, karena itu pendiri Bangsa kita dipimpin Sukarno, mereka telah menetapkan cetak biru perekonomian bangsa kita," kata Prabowo.
Cetak Biru Ekonomi dalam Pasal 33 UUD 1945
Prabowo menyebut cetak biru perekonomian bangsa tertuang dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Pasal tersebut, menurutnya, menjabarkan dengan jelas sistem ekonomi yang harus dijalankan. "Dan saya ingin tegaskan keyakinan saya apabila kita menjalankan Pasal 33, UUD 1945, kita jalankan dengan baik, murni negara kita akan memiliki sumber daya yang cukup," tegasnya.
Pidato ini disampaikan di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia untuk tetap berpegang pada fondasi konstitusi yang telah dirancang para pendiri bangsa.



