JK Klarifikasi 5 Isu Penting: Dari 'Mati Syahid' hingga Peran dalam Karier Jokowi
JK Klarifikasi Isu 'Mati Syahid' hingga Ijazah Jokowi

JK Buka Suara Soal Isu 'Mati Syahid' dan Polemik Ijazah Jokowi

Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla (JK), secara resmi mengklarifikasi sejumlah isu yang belakangan menyeret namanya dalam berbagai polemik. Dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), mantan wapres ini menjawab tuntas isu ceramah 'mati syahid' yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya hingga keterlibatannya dalam kasus ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).

1. Bantah Tuduhan Penistaan Agama

JK menegaskan bahwa pernyataannya mengenai 'mati syahid' dalam ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM) harus dilihat dalam konteks penjelasan tentang konflik berlatar agama di Poso dan Ambon sekitar 25 tahun lalu. Ia menyoroti bahwa potongan video yang viral di media sosial hanya berdurasi satu-dua menit dan tidak merepresentasikan keseluruhan maksudnya.

"Cuma satu-dua menit saya bicara konflik karena agama, itulah antara lain Ambon-Poso. Saya tidak bicara tentang dogma agama," tegas JK.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ia menjelaskan bahwa penggunaan istilah 'syahid' disesuaikan dengan audiens yang berada di lingkungan masjid saat itu. JK membandingkannya dengan istilah 'martir' dalam tradisi Kristen yang memiliki makna serupa, yaitu mati karena membela agama.

2. Minta Publik Lihat Konteks Utuh

Lebih lanjut, JK menekankan bahwa baik dalam ajaran Islam maupun Kristen tidak ada pembenaran untuk tindakan kekerasan seperti yang terjadi dalam konflik tersebut. Ia menggambarkan betapa brutalnya konflik di Ambon dan Poso yang menewaskan sekitar 7.000 orang dalam tiga tahun dan menyebabkan ratusan ribu lainnya mengungsi.

"Tidak ada ajaran agama yang membenarkan saling membunuh. Itu yang saya sampaikan," ujarnya.

JK mengaku justru turun langsung ke daerah konflik untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. Ia pun meminta publik melihat secara utuh pernyataannya dan tidak terjebak pada potongan video yang beredar.

3. Buka Peluang Jalur Hukum

Merespons laporan polisi yang diajukan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), JK membuka peluang untuk menempuh jalur hukum terkait tudingan penistaan agama. Meski demikian, ia menyebut langkah tersebut masih dalam tahap kajian dan pertimbangan.

"Kasih tahu mereka semua, orang yang besar ngomongnya, apa yang dia lakukan pada saat ini semua? Kita akan pertimbangkan, karena kalau tidak dituntut, ini akan terulang lagi," kata JK.

Ia menilai tudingan terhadap dirinya sebagai bentuk fitnah dan mengaku sudah banyak masyarakat yang berinisiatif melaporkan persoalan tersebut. JK lebih memilih menyerahkan persoalan ini kepada tim hukum dan masyarakat.

4. Singgung Tuduhan Terkait Ijazah Jokowi

Dalam kesempatan yang sama, JK juga mengeluarkan kekesalannya atas tuduhan Rismon Sianipar yang mengatakan dirinya mendanai kasus ijazah Jokowi. Ia mengungkapkan bahwa masalah ceramah 'mati syahid' muncul setelah dia melaporkan Rismon Sianipar ke polisi terkait tudingan tersebut.

"Ini soal Rismon ini sudah melibatkan semua orang, dituduhlah saya, dituduh Puan, dituduh SBY, dituduh siapa. Itu pengalihan saja," ujar JK dengan nada kesal.

Lebih lanjut, JK menegaskan peran pentingnya dalam karier politik Jokowi. Ia mengklaim sebagai orang yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta dan menyodorkan namanya ke Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk Pilkada DKI Jakarta.

"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya," tegas JK.

5. Minta Jokowi Buka Ijazah ke Publik

JK juga mengungkapkan detail negosiasi politik di balik pencalonan Jokowi sebagai presiden. Menurutnya, Megawati tidak mau menandatangani pencalonan Jokowi kalau bukan JK yang menjadi wakil presidennya.

"Ibu Mega bilang 'jangan, Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf'. Ya bukan saya minta, bukan. Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman," papar JK.

Terkait polemik ijazah yang terus berlarut, JK secara terbuka meminta Jokowi membuka ijazahnya kepada publik. Ia menilai langkah ini diperlukan untuk mengakhiri perdebatan yang sudah berlangsung selama dua tahun.

"Sudahlah Pak Jokowi, sudahlah. Kasih lihat ijazah saja. Itu saja. Timbul lagi, sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Dan saya yakin itu asli, kenapa tidak dikasih lihat?" imbuh JK.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Konferensi pers ini menjadi momen penting di mana JK secara komprehensif menjawab berbagai isu yang mengemuka belakangan ini. Dari klarifikasi tentang ceramah 'mati syahid' yang dilaporkan sebagai penistaan agama hingga keterbukaan tentang perannya dalam karier politik Jokowi, mantan wapres ini berusaha memberikan penjelasan utuh kepada publik.