JK Gelar Pertemuan dengan Delegasi Malino, Bahas Polemik Ceramah Viral di UGM
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mengadakan pertemuan penting dengan sejumlah tokoh yang terlibat dalam perundingan damai Malino I dan II. Pertemuan ini digelar di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa (21/4/2026), dengan fokus utama membahas ceramah JK di masjid UGM yang menjadi viral di media sosial.
Dalam pernyataannya usai pertemuan, JK menekankan bahwa tujuan pertemuan adalah untuk menjaga kedamaian dan mencegah kesalahpahaman terhadap pernyataannya. "Ini kita sudah bertemu, sudah sepakat untuk tentu menjaga kedamaian dan supaya efek-efek itu, fitnah-fitnah itu, tidak seharusnya dipahami secara baik," ujar JK. Dia menambahkan bahwa ceramahnya hanya menggambarkan peristiwa yang terjadi di Poso dan Ambon sekitar 25 tahun lalu, bukan bermaksud menyinggung pihak mana pun.
Tokoh yang Hadir dan Pernyataan Mereka
Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa tokoh kunci, termasuk Pendeta John Ruhulessin dari Gereja Protestan Maluku, Pendeta Rinaldi Damanik sebagai delegasi dalam Perundingan Malino I, serta Ustaz Sugiyanto Kaimuddin yang juga delegasi dalam Perundingan Malino I. Mereka sepakat bahwa ceramah JK berisi fakta sosiologis, bukan penistaan agama.
Pendeta John Ruhulessin menjelaskan, "Beliau menjelaskan fakta sosiologis yang terjadi di Maluku ketika beliau menjadi orang yang dipercaya oleh negara menyelesaikan konflik Maluku. Bapak JK tidak pernah mempercakapkan tentang sebuah doktrin agama." Dia meyakini bahwa konflik di Ambon dan Poso tidak akan terjadi jika ajaran agama dijalankan dengan benar, dan bahwa situasi saat itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memanaskan kondisi.
Pendeta Rinaldi Damanik menegaskan bahwa pernyataan JK bukanlah pernyataan teologis, melainkan gambaran realitas pahit konflik. "Apa yang disampaikan oleh Pak JK kurang lebih kalimatnya tentang berkonflik dengan alasan syahid masuk surga itu, itu memang terjadi dalam konflik itu," ujarnya. Dia mengisahkan keyakinan pada masa konflik bahwa membunuh orang dari agama lain dapat menjamin masuk surga, yang menjadi salah satu pemicu kekerasan.
Ustaz Sugiyanto Kaimuddin menyatakan bahwa konflik di Poso telah selesai dan ceramah JK hanya menyampaikan fakta lapangan. "Sesungguhnya urusan kerusuhan Poso clear, tidak ada yang perlu dibicarakan. Karena apa yang disampaikan oleh Pak JK itu adalah fakta lapangan," tuturnya. Dia menambahkan bahwa konflik lebih disebabkan oleh ambisi dan dendam, dengan agama hanya dijadikan alat untuk memperburuk situasi.
Implikasi dan Harapan ke Depan
Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk terus menjaga perdamaian dan mencegah penyebaran fitnah terkait ceramah viral tersebut. Para tokoh menekankan pentingnya belajar dari sejarah konflik untuk menghindari terulangnya peristiwa serupa di masa depan. Mereka berharap masyarakat dapat memahami konteks ceramah JK sebagai upaya refleksi, bukan provokasi.
Dengan adanya dialog ini, diharapkan polemik yang timbul dapat mereda dan fokus beralih pada upaya-upaya perdamaian dan rekonsiliasi di daerah yang pernah terdampak konflik. JK dan para delegasi Malino menegaskan komitmen mereka untuk mendukung stabilitas nasional melalui pendekatan dialogis dan faktual.



