Jakarta - Tiga kandidat penerima Polisi Pelindung Perempuan dan Anak dalam Hoegeng Awards 2026 telah ditetapkan oleh Dewan Pakar. Ketiga sosok polisi ini berupaya mengungkap kasus serta memberikan perlindungan terbaik kepada perempuan, anak, dan kelompok rentan.
Penentuan Tiga Besar
Penentuan tiga besar kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman ini dilakukan dalam Rapat Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026). Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 terdiri dari Ketua Komisi III DPR, Dr. Habiburokhman, S.H., M.H., Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, M.Psi, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, S.Psi., MM, Mantan Plt Pimpinan KPK Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M., dan anggota Kompolnas Gufron Mabruri.
Rapat berlangsung dinamis, dan para Dewan Pakar berdiskusi secara ketat untuk memilih tiga besar Kategori Polisi Pelindung Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan. Berikut tiga besar kandidat Polisi Pelindung Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan Hoegeng Awards 2026:
- AKP Siti Elminawati (Kasat Reskrim Polres Sigi, Polda Sulawesi Tengah)
- Ipda Kadek Sumerta (Panit Reskrim Polsek Blahbatuh, Polsek Gianyar, Bali)
- AKBP Ema Rahmawati (Kasubbag Binops Direktorat Tindak Pidana PPA dan PPO Bareskrim Polri)
Saat ini telah dibuka uji publik Hoegeng Awards 2026. Pembaca detikcom juga bisa memberikan masukan mengenai kandidat. Redaksi menjamin kerahasiaan identitas pembaca yang mengirimkan informasi tersebut. Masukan bisa dikirim ke email hoegengawards@detik.com dengan subjek Hoegeng Awards 2026 dan menyertakan dokumen atau data pendukung. Jangan lupa sertakan nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Panitia dan Dewan Pakar tidak menerima segala bentuk penggalangan dukungan dalam uji publik ini.
Profil Kandidat
1. AKP Siti Elminawati
AKP Siti Elminawati telah berkecimpung di bidang perlindungan perempuan dan anak sejak awal tahun 2000-an. Saat ini, ia menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Sigi, Polda Sulawesi Tengah. Sejumlah kasus besar telah diungkap AKP Siti selama menjadi penyidik di bidang PPA. Kasus yang menjadi sorotan publik adalah pemerkosaan remaja perempuan oleh 11 orang, di mana pelaku termasuk kepala desa dan oknum anggota brimob.
Direktur Eksekutif Libu Perempuan Sulteng, Dewi Rana, menilai AKP Siti memiliki dedikasi tinggi, profesional, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan saat menangani kasus perempuan dan anak. "Dalam setiap pelaksanaan tugas, beliau senantiasa menempatkan perlindungan terhadap perempuan dan anak sebagai prioritas utama, khususnya bagi korban kekerasan baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. AKP Siti Elminawati juga dikenal sebagai sosok yang humanis, responsif, dan konsisten dalam memberikan pendampingan kepada korban, sehingga kehadirannya mampu menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Kepolisian," kata Dewi Rana.
Banyak kasus lain yang ditangani AKP Siti, di antaranya kasus orang tua yang menjual bayi kandungnya seharga Rp 12,5 juta, kasus bayi yang dibuang di Hutan Kota Palu, serta kasus TPPO anak asal Sulteng di Seram Bagian Timur, Maluku. Rekam jejak yang panjang itu mengantarkan Siti sebagai perempuan pertama yang menjadi Kasat Reskrim di Polres jajaran Polda Sulteng. Ia juga sempat menjabat sebagai Kapolsek Mantikulore, Polres Palu.
2. Ipda Kadek Sumerta
Ipda Kadek Sumerta membina Yayasan Bhakti Senang Hati di Gianyar, Bali, yang menaungi lebih dari 100 penyandang disabilitas. Program ini berawal dari kunjungan sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah setempat. Pembinaan dilakukan Ipda Sumerta sejak tahun 2017, saat ia masih menjabat sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Siangan, Gianyar. Ia mengajarkan para disabilitas untuk baca tulis hingga memberikan pembinaan agar mereka bisa mandiri.
Program ini terus berjalan hingga kini Ipda Sumerta menjabat sebagai Panit Reskrim Polsek Blahbatuh, Polsek Gianyar, Bali. Warga setempat merasakan betul kehadiran Ipda Sumerta beserta pemberdayaan yang dilakukannya. Pendiri Yayasan Bhakti Senang Hati, Putu Suryati, mengatakan, "Setelah kenal sama Pak Sumerta, beliaunya sering juga berkunjung ke yayasan kami dan cara beliau membimbing, mengajar anak-anak di sana, akhirnya kami akrab kayak gimana itu, kami disayangi. Jadinya anak-anak itu hormat sama beliau."
Saat ini ada 130 anak yang dibina di yayasan tersebut. Sebanyak 20 di antaranya tinggal di yayasan dan sisanya tinggal di rumah masing-masing. Ipda Sumerta mengajarkan anak-anak tentang baca tulis dan bahasa Inggris serta mendorong mereka untuk mandiri. Yayasan didirikan oleh Putu Suryati pada sekitar tahun 2015 dan tidak memiliki donatur tetap. "Mereka cari sendiri dengan menjual lukisan karena ada beberapa warga yang bisa melukis, menjual kerajinan, terus bantuan-bantuan dari relawan, bantuan dari masyarakat, bantuan dari instansi," imbuh Sumerta. Alasan Sumerta ikut membina dan membantu yayasan berangkat dari rasa keprihatinan karena penyandang disabilitas di sana kerap diabaikan.
3. AKBP Ema Rahmawati
AKBP Ema Rahmawati saat ini menjabat sebagai Kasubbag Binops Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pidana Perdagangan Orang (PPO) Bareskrim Polri. Ia dikenal memiliki komitmen tinggi dalam memberikan perlindungan perempuan dan anak. AKBP Ema merupakan sosok Polwan yang melakukan pendekatan jemput bola dalam menangani permasalahan terkait PPA. Ia juga berperan penting dalam pembentukan Direktorat PPA-PPO di sejumlah Polda.
Karena komitmennya, AKBP Ema menjadi sosok Polwan yang komunikatif dengan masyarakat terkait kasus PPA yang ditangani. Hal itu membuat masyarakat merasa nyaman karena keberpihakan AKBP Ema kepada kelompok rentan. Siti Mazuma, lawyer dari Women Crisis Center Perempuan Nusantara, mengatakan, "Sama Bu Ema itu kayak merasa nyaman ketika dalam proses penanganan kasus dan saya kira Bu Ema orang yang sudah punya komitmen lama di penanganan kasus perempuan dan anak, di mana beliau juga sudah menangani berbagai macam kasus dengan segala tantangan hambatan, dan beliau bisa menyelesaikannya dalam upaya pemenuhan hak perempuan dan anak korban kekerasan."
AKBP Ema mulai berkecimpung di bidang PPA Bareskrim Polri sejak tahun 2010 dan mulai fokus pada 2016. Ia menjadi Polwan yang sangat paham tentang perkembangan unit PPA di Bareskrim. "Saya juga merintis terbentuknya Direktorat PPA di Mabes Polri maupun di polres, sekarang ada 11 Polda dan 22 Satres PPA-PPO yang ada di Polres. Jadi, saya tahu banget perjalanan, perkembangan dari unit PPA ini yang dulunya memang unit, kemudian beberapa kali dialihkan berbeda subit. Kemudian sampai dengan terbentuknya Direktorat PPA di Bareskrim dan Ditres PPA-PPO di 11 Polda dan Satres PPA-PPO di 22 Polres," kata AKBP Ema.



