HNW Desak Revitalisasi OKI untuk Perkuat Solidaritas Islam dan Bela Al-Aqsa
HNW Desak Revitalisasi OKI untuk Bela Al-Aqsa dan Palestina

HNW Dorong Revitalisasi OKI demi Penyelamatan Masjid Al-Aqsa dan Palestina

Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menekankan urgensi revitalisasi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk memperkuat solidaritas di kalangan dunia Islam. Langkah ini dinilai krusial dalam mendorong kontribusi nyata bagi perdamaian global, terutama dalam upaya pembelaan terhadap Masjid Al-Aqsa dan perjuangan kemerdekaan Palestina.

Latar Belakang Historis dan Tujuan Awal OKI

HNW menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara, hasil kerja sama MPR RI dengan Institut Indonesia di Jakarta pada Jumat (17/4). Dalam forum itu, ia mengingatkan bahwa keberadaan OKI sejak didirikan pada 1969 tidak dapat dipisahkan dari perjuangan membela Al-Aqsa dan memerdekakan Palestina.

Menurutnya, latar belakang berdirinya OKI merupakan respons para pemimpin negara-negara berpenduduk Muslim terhadap pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh ekstremis zionis Yahudi. Oleh karena itu, isu Palestina dan Yerusalem menjadi fondasi utama organisasi ini. Sejak awal, telah diputuskan bahwa Yerusalem akan menjadi kantor pusat Sekretaris Jenderal OKI, yang diharapkan menjadi ibu kota Palestina merdeka dan lokasi Masjid Al-Aqsa.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"OKI harusnya tidak dilepaskan dari Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina. Agar organisasi internasional terbesar kedua sesudah PBB ini tidak kehilangan relevansinya," tegas HNW dalam keterangannya pada Senin (20/4/2026).

Potensi dan Tantangan dalam Revitalisasi OKI

HNW mengakui bahwa dalam perjalanannya, OKI menghadapi berbagai dinamika, tantangan, dan bahkan konflik internal antarnegara anggota. Namun, organisasi ini memiliki potensi besar untuk kembali berperan secara efektif. Ia mencontohkan sejumlah pencapaian OKI, seperti keberhasilan dalam menghadirkan resolusi PBB yang menolak penodaan agama dan memerangi Islamofobia pada 2022.

Selain itu, negara-negara anggota OKI memiliki kemampuan militer yang diperhitungkan, solidaritas untuk membentuk aliansi militer, serta kapasitas unggul secara geopolitik, ekonomi, dan strategis. Beberapa negara OKI berada di lokasi sangat strategis, seperti Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, dan Selat Malaka.

Peran Strategis Indonesia dalam Revitalisasi OKI

HNW menyoroti posisi Indonesia yang dinilai sangat strategis dalam mendorong revitalisasi OKI. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, salah satu pendiri OKI, dan diterima baik di negara-negara Barat sebagai negara demokratis dan moderat, Indonesia memiliki legitimasi kuat untuk mengambil peran kepemimpinan.

Apalagi, pada 2024 Indonesia telah menandatangani Piagam Pendirian OKI, organisasi internasional yang turut didirikan Indonesia pada 1969. HNW memahami langkah ini karena tiga alasan yang sebelumnya sering dianggap tidak relevan, mengingat keanggotaan OKI tidak mensyaratkan negara berbasis Islam, melainkan terbuka bagi anggota PBB. Tercatat delapan negara anggota OKI mayoritas non-Muslim, seperti Togo, Suriname, Nigeria, dan Pantai Gading, telah menandatangani piagam tersebut.

"Maka sesudah penandatanganan itu, Indonesia seharusnya mengambil peran lebih aktif, agar bisa berkontribusi lebih besar dalam menentukan arah organisasi, mewujudkan cita-cita pendiriannya yang juga sejalan dengan Konstitusi Indonesia," kata HNW.

Langkah Konkret: Menghidupkan Kembali Deklarasi Jakarta

Menurut HNW, salah satu langkah penting dalam revitalisasi OKI adalah menghidupkan kembali Deklarasi Jakarta, hasil Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa OKI yang digelar di Jakarta pada 2016. Deklarasi ini berisi komitmen konkret negara-negara anggota dalam menyelamatkan Masjid Al-Aqsa dan mendukung Palestina merdeka, melalui jalur politik, ekonomi, diplomasi, dan hukum internasional.

HNW meyakini bahwa jika komitmen dalam deklarasi tersebut dijalankan secara konsisten oleh negara-negara OKI, organisasi ini dapat menjadi kekuatan global yang efektif dalam memajukan anggotanya dan memperjuangkan perdamaian dunia.

"Banyaknya tantangan penting dijadikan sebagai diagnosis untuk menemukan resep mujarab. Sehingga revitalisasi OKI bisa dilakukan, dan pembebasan Al-Aqsa yang kini makin dikuasai zionis Israel juga bukan hal mustahil, selama ada keseriusan dan kepemimpinan kuat, dan Indonesia bisa memberikan kontribusinya," tutup HNW.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga