Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade menilai kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter masih lebih rendah dibandingkan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar global. Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan kepentingan rakyat meskipun harus menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.
Apresiasi atas Kebijakan Pemerintah
Andre mengapresiasi keputusan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite, meskipun terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah. Menurutnya, pemerintah konsisten menjaga janji untuk tidak membebani masyarakat dengan kenaikan harga BBM subsidi.
"Di tengah gejolak harga minyak dunia akibat perang Iran-Amerika, pemerintah dengan tegas menyatakan tidak ada kenaikan BBM bersubsidi. Ini menunjukkan keberpihakan nyata kepada rakyat Indonesia," ujar Andre saat dihubungi pada Kamis (11/6/2026).
Perbandingan Harga dengan Dunia
Politisi Fraksi Gerindra itu juga merespons kenaikan harga Pertamax. Ia menyebut bahwa meskipun naik, harga Pertamax masih jauh di bawah harga BBM di negara lain. "Harga BBM nonsubsidi kita, meskipun naik, masih sangat rendah dibandingkan harga di berbagai belahan dunia. Di beberapa negara, harga bisa mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 70 ribu per liter. Sementara kita menjual Rp 16.250 untuk RON 92 dan Rp 17.000 untuk RON 95," jelasnya.
Andre meyakini bahwa kondisi ini membuktikan pemerintah masih memperhatikan daya beli masyarakat. Ia juga optimistis kenaikan Pertamax tidak akan memicu inflasi atau kenaikan harga komoditas. "Pemerintah pasti memiliki strategi untuk mencegah inflasi. Kebijakan ini sudah diperhitungkan secara matang," tambahnya.
Penyesuaian Harga oleh Pertamina
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green mulai Rabu, 10 Juni 2026. Berikut daftar harga terbaru:
- Pertamax (RON 92): dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter
- Pertamax Green 95 (RON 95): dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp 20.750 per liter (tetap)
- Dexlite (CN 51): Rp 23.000 per liter (tetap)
- Pertamina Dex (CN 53): Rp 24.800 per liter (tetap)
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan berdasarkan evaluasi berkala sesuai formula yang ditetapkan pemerintah. "Langkah ini merupakan bagian dari tata kelola energi untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi pada Selasa (9/6/2026).
Dengan kenaikan ini, pemerintah berharap masyarakat tetap dapat menikmati pasokan BBM yang stabil dan berkualitas tanpa tekanan ekonomi yang berlebihan.



