Foto Viral Mahfud MD di Sidang Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Ternyata Hasil Manipulasi Artificial Intelligence
Sebuah foto yang beredar luas di media sosial pada Februari 2026 mengklaim mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD hadir dalam sidang kasus dugaan ijazah palsu mantan presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam unggahan tersebut, Mahfud MD diklaim menunjukkan dokumen yang dianggap sebagai ijazah palsu milik Jokowi di persidangan.
Narasi yang Menyebar di Platform Digital
Foto kontroversial ini dibagikan oleh beberapa akun Facebook, yang dengan cepat menjadi viral dan memicu berbagai spekulasi di kalangan publik. Narasi yang menyertainya menyatakan bahwa Mahfud MD secara aktif terlibat dalam proses hukum terkait kasus ijazah palsu yang melibatkan mantan presiden Indonesia tersebut.
Banyak pengguna media sosial yang mempercayai keaslian foto ini dan menggunakannya sebagai bahan diskusi politik, terutama dalam konteks hubungan antara Mahfud MD dan Jokowi yang telah lama menjadi perhatian dalam lingkaran politik nasional.
Hasil Investigasi Tim Cek Fakta Kompas.com
Namun, berdasarkan penelusuran mendalam yang dilakukan oleh Tim Cek Fakta Kompas.com, foto tersebut terbukti bukan gambar asli melainkan hasil manipulasi canggih menggunakan teknologi artificial intelligence (AI). Analisis teknis menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam detail visual dan konteks waktu yang tidak mungkin terjadi.
Tim investigasi menemukan beberapa indikator kuat yang membuktikan foto tersebut palsu:
- Ketidakcocokan pencahayaan dan bayangan dengan setting sidang pengadilan yang sebenarnya
- Detail wajah Mahfud MD yang menunjukkan tanda-tanda editing digital
- Ketiadaan konfirmasi resmi dari pihak pengadilan atau Mahfud MD sendiri mengenai kehadirannya di sidang tersebut
- Ketidaksesuaian timeline dengan jadwal sidang yang sebenarnya
Fenomena ini mengingatkan kita pada pentingnya verifikasi informasi di era digital, terutama ketika menyangkut konten yang berkaitan dengan figur publik dan isu-isu politik sensitif. Teknologi AI semakin canggih dalam menciptakan konten visual yang tampak meyakinkan, sehingga masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima informasi.
Kasus ini juga menyoroti bagaimana narasi politik dapat dengan mudah dimanipulasi melalui konten digital palsu, yang berpotensi memengaruhi opini publik dan stabilitas politik jika tidak segera diklarifikasi dengan fakta yang akurat.