Anggota DPR Serukan Bijak Menyaring Informasi di Ruang Digital Saat Ramadan
Memasuki bulan Ramadan, arus informasi di ruang digital diprediksi semakin padat dan dinamis. Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra, Novita Wijayanti, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi, tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah, serta tetap memegang teguh semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Seruan Persatuan Sejalan dengan Pesan Presiden Prabowo
Seruan tersebut sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus bersatu dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Kunci menjaga persatuan adalah literasi kebangsaan dan sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan," kata Novita dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (10/2/2026).
Hal itu disampaikannya di hadapan warga Desa Jeruklegi Wetan, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada hari yang sama. Menurut kader dari Partai Gerindra yang diketuai oleh Prabowo ini, teknologi digital ibarat dua mata pisau. Di satu sisi, teknologi memudahkan akses pengetahuan, namun di sisi lain menjadi ruang subur bagi hoaks dan ujaran kebencian.
Pentingnya Filter Kebangsaan dan Pengamalan Pancasila
Karena itu, masyarakat perlu memiliki filter kebangsaan agar tidak terseret ke dalam polarisasi yang dapat merusak kohesi sosial. Ketua Umum Perempuan Indonesia Raya (PIRA) itu menegaskan bahwa pengamalan Pancasila tidak cukup hanya sebatas hafalan, melainkan harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari keluarga, lingkungan RT, hingga kehidupan desa.
Oleh karena itu, pihaknya bersama Partai Gerindra akan terus berusaha mengajak masyarakat untuk bersatu. Novita menjelaskan bahwa Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara merupakan kompas utama untuk merawat persatuan di tengah masyarakat yang kian majemuk. Tanpa pemahaman yang utuh, nilai-nilai kebangsaan mudah tergerus oleh kepentingan sempit.
"Karena itu, sosialisasi Empat Pilar harus dilakukan secara berkelanjutan agar tetap menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Ramadan sebagai Momentum Perekat Persatuan
Lebih lanjut, ia menilai bahwa menjelang Ramadan, ruang publik kerap dipenuhi oleh beragam narasi keagamaan dan sosial. Momentum ini harus dijaga agar menjadi perekat, bukan sumber perpecahan. Pancasila, menurutnya, mengandung nilai-nilai fundamental yang relevan untuk menjawab tantangan zaman, mulai dari toleransi, gotong royong, hingga keadilan sosial.
"Sedangkan UUD NKRI Tahun 1945 sebagai hukum dasar negara yang mengatur penyelenggaraan negara serta hak dan kewajiban warga negara," jelasnya.
Pemahaman terhadap konstitusi, lanjut Novita, akan menumbuhkan kesadaran warga untuk taat hukum sekaligus aktif mengawal demokrasi secara bertanggung jawab. "Adapun Bhinneka Tunggal Ika menjadi prinsip dasar yang menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia," pungkasnya.