Bamsoet Luncurkan Buku Soroti Kepemimpinan Prabowo yang Merangkul Perbedaan
Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo, meluncurkan buku berjudul 'Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung' dalam diskusi publik di Parle Resto, Senayan Park, Jakarta. Buku karya jurnalis Joseph Osdar ini menggambarkan praktik politik yang bekerja dalam senyap, tanpa panggung, sensasi, atau pertontonan konflik.
Politik Bekerja dalam Ruang Sunyi
Bamsoet, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar, menjelaskan bahwa buku ini merekam bagaimana politik sesungguhnya beroperasi. "Politik akal sehat justru sering hadir dalam ruang-ruang sunyi, dalam keputusan-keputusan yang tidak populer tetapi penting bagi bangsa," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (16/2/2026). Ia menekankan bahwa politik tidak selalu terjadi di depan kamera atau melalui pernyataan keras, tetapi melalui kerja nyata yang tenang.
Kedewasaan dalam Mengelola Perbedaan
Salah satu pesan utama buku ini adalah pentingnya kedewasaan dalam mengelola perbedaan dalam demokrasi. Bamsoet memuji kemampuan Presiden Prabowo dalam merangkul dan menjembatani perbedaan untuk kepentingan nasional. "Kita lihat kemampuan Presiden Prabowo merangkul, menjembatani untuk mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada demi kepentingan bangsa," paparnya. Ia mencontohkan kasus Tom Lembong dan Hasto, yang berseberangan selama Pilpres, tetapi kemudian diberikan abolisi dan amnesti, menunjukkan sikap inklusif.
Esensi Kepemimpinan yang Membangun
Bamsoet menegaskan bahwa esensi kepemimpinan sejati adalah membangun, bukan menghancurkan. "Karena pada hakekatnya pemimpin itu merangkul, bukan memukul. Menyayangi, bukan menyaingi. Mendidik, bukan membidik. Membina, bukan menghina. Mencari solusi, bukan mencari simpati. Serta membela, bukan mencela," tegasnya. Peluncuran buku ini diharapkan dapat memperkaya diskursus publik tentang politik yang sehat, rasional, dan berorientasi pada kepentingan bangsa.
Politik Akal Sehat Tanpa Panggung
Dalam buku ini, Osdar menjadikan Bamsoet sebagai narasumber utama dan menempatkan Prabowo serta Bamsoet sebagai contoh praktik politik rasional di tengah budaya politik yang sering emosional. Osdar mengungkapkan bahwa politik akal sehat memahami kapan harus berbicara dan kapan harus bekerja, serta menerima perbedaan sebagai keniscayaan demokrasi. "Demokrasi tidak akan rusak karena perbedaan, tetapi Ia bisa rusak karena ketidakmampuan mengelola perbedaan," ujarnya. Politik tanpa panggung, menurutnya, fokus pada menjembatani kepentingan untuk stabilitas nasional, mendukung pertumbuhan investasi dan dunia usaha.
Relasi Politik yang Menghormati Kelembagaan
Buku ini juga menyoroti pentingnya relasi politik yang dibangun atas dasar saling menghormati peran kelembagaan untuk menciptakan stabilitas jangka panjang. Osdar menekankan bahwa hubungan politik yang sehat tidak harus selalu diekspresikan melalui koalisi formal atau pernyataan publik yang demonstratif. "Terpenting dalam politik adalah kejelasan tujuan dan komitmen kebangsaan. Ketika tujuan nasional menjadi titik temu, maka ego personal dan kepentingan jangka pendek harus dikesampingkan," ucap Osdar.
Dukungan dari Pengamat Politik
Pengamat politik Rocky Gerung, yang hadir dalam peluncuran, menegaskan bahwa politik harus berangkat dari etika dan moralitas, bukan sekadar elektabilitas. Ia menilai Prabowo memiliki sense of keperwiraan yang tercermin dalam sikap politiknya, termasuk saat Pemilihan Presiden 2019. Rocky bercerita bahwa ia pernah menyarankan Prabowo membawa buku The Great Disruption karya Francis Fukuyama dalam debat untuk menguji kedalaman literasi lawan, tetapi Prabowo menolak. "Beliau menolak karena tidak ingin menghina Presiden Jokowi di panggung. Di situ saya melihat ada etika dan moralitas yang didahulukan. Politik bagi beliau bukan sekadar soal menang, tetapi juga menjaga martabat," pungkas Rocky.
Dihadiri Tokoh-Tokoh Terkemuka
Peluncuran buku ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain:
- Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung
- Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon
- Menkomdigi RI Meutia Hafid
- Dubes RI untuk Italia Junimart Girsang
- Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus Aris Marsudiyanto
- Anggota Komisi III DPR RI F-PKS Habib Aboe Bakar Alhabsy
- Mantan Ketua MK Prof. Jimly Asshiddiqie
- Mantan Dubes Indonesia untuk Singapura Suryopratomo
- Komut Pertamina Iwan Bule
- Direktur Pertamina Simon Aloisius Mantiri
- Pengusaha Jerry Hermawan Lo
- Ketum FKPPI Pontjo Sutowo
- Mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutarman
- Mantan Ketua DPR Setya Novanto
- Wakil Ketua Dewan Pembina KADIN Indonesia Didik J. Rachbini
- Tokoh PAN Soetrisno Bahir
- Rocky Gerung
- Akbar Faisal