Bamsoet Serukan Paskah Sebagai Momentum Perkuat Persatuan Nasional
Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo atau yang akrab disapa Bamsoet, mengungkapkan bahwa perayaan Paskah tahun ini hadir dalam situasi dunia yang penuh tantangan. Dunia sedang mengalami luka kemanusiaan serius, sementara di dalam negeri, Indonesia menghadapi ujian kohesi sosial yang memerlukan perhatian mendesak.
Refleksi atas Krisis Kemanusiaan Global
Bamsoet menuturkan, Paskah tahun ini tidak dapat dilepaskan dari realitas krisis kemanusiaan global yang semakin mengkhawatirkan. Lebih dari 240 ribu orang meninggal akibat konflik sepanjang tahun 2025, dengan pusat konflik utama di Gaza, Ukraina, dan Sudan. Tragedi ini, menurutnya, harus menggugah kesadaran moral seluruh umat manusia.
Data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa perang modern semakin brutal, dengan peningkatan korban sipil dan melemahnya norma kemanusiaan. Konflik di Gaza hingga awal 2026 telah menelan lebih dari 72 ribu korban jiwa, di mana sebagian besar adalah warga sipil yang tidak bersalah. Sementara itu, perang di Ukraina juga mengalami eskalasi yang signifikan, dengan ribuan orang tewas dan puluhan ribu terluka akibat serangan drone dan misil yang menyasar wilayah permukiman.
Dampak Konflik Global terhadap Indonesia
Bamsoet menjelaskan bahwa dampak konflik global ini juga dirasakan secara tidak langsung oleh Indonesia. Tekanan ekonomi, gangguan rantai pasok, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik menjadi tantangan yang harus dihadapi. Situasi ini menuntut Indonesia untuk memperkuat ketahanan nasional sekaligus menjaga stabilitas sosial di dalam negeri.
"Di tengah dunia yang bergejolak, Indonesia harus mampu menjaga persatuan. Jangan sampai polarisasi sosial dan politik di dalam negeri berkembang menjadi konflik yang merusak sendi-sendi kebangsaan," ungkap Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (5/4/26).
Pesan Rekonsiliasi dari Paskah
Bamsoet menekankan bahwa Paskah membawa pesan kuat tentang pentingnya rekonsiliasi dan pengampunan dalam kehidupan berbangsa. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk meredam ketegangan sosial dan memperkuat persatuan nasional, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global serta dinamika politik dan ekonomi nasional yang semakin kompleks.
"Rekonsiliasi adalah kunci. Paskah mengajarkan bahwa pengampunan dan persatuan adalah fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak dialog, bukan konflik. Lebih banyak persatuan, bukan perpecahan," pungkas Bamsoet.
Dia berharap momentum Paskah dapat menjadi refleksi mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk membangkitkan kembali nilai kemanusiaan dan memperkuat rekonsiliasi nasional, sehingga bangsa ini dapat tetap bersatu dan tangguh menghadapi berbagai tantangan global.



