Aria Bima: Dunia Akademis Harus Tetap Kritis dalam Segala Situasi
Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Aria Bima, menegaskan bahwa dunia akademis perlu mempertahankan semangat kritis dalam situasi apa pun. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Gaspol Goes to Campus yang berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, pada Selasa (24 Februari 2026).
Tanggapan atas Pertanyaan Mahasiswa
Aria Bima memberikan respons terhadap pertanyaan dari seorang mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut. Mahasiswa tersebut mengungkapkan kekhawatiran mengenai tuntutan agar mahasiswa selalu bersikap kritis, sementara di sisi lain, pemerintah justru sering kali mengeluarkan kebijakan yang dinilai bertentangan dengan realitas yang terjadi di masyarakat.
Menurut Aria Bima, fenomena kekuasaan selalu muncul dalam berbagai bentuk dan konteks. "Ada kekuasaan yang demokratis, ada pula kekuasaan yang otoriter," ujarnya. Ia menekankan bahwa dalam menghadapi dinamika kekuasaan ini, peran dunia akademis, termasuk mahasiswa dan para akademisi, sangat krusial untuk menjaga nalar kritis dan objektivitas.
Pentingnya Semangat Kritis di Lingkungan Akademik
Dalam pidatonya, Aria Bima lebih lanjut menjelaskan bahwa semangat kritis tidak hanya penting sebagai bagian dari proses pendidikan, tetapi juga sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Ia menyoroti bahwa:
- Dunia akademis harus menjadi ruang yang aman untuk mengkritisi kebijakan tanpa takut akan tekanan.
- Kritik yang konstruktif dari akademisi dapat membantu pemerintah dalam mengevaluasi dan memperbaiki kebijakan yang ada.
- Mahasiswa, sebagai generasi penerus, perlu dibekali dengan kemampuan analitis yang kuat untuk menghadapi kompleksitas isu-isu sosial dan politik.
Acara Gaspol Goes to Campus ini sendiri merupakan bagian dari upaya untuk mendekatkan dunia politik dengan kalangan akademisi, khususnya mahasiswa. Dengan dialog seperti ini, diharapkan dapat tercipta sinergi yang positif antara pembuat kebijakan dan masyarakat kampus.
Aria Bima menutup dengan pesan bahwa menjaga semangat kritis adalah tanggung jawab bersama, terutama di era di informasi dapat dengan mudah dimanipulasi. "Kritis bukan berarti selalu menentang, tetapi lebih kepada sikap bijak dalam menilai dan merespons setiap perkembangan," pungkasnya.