Jakarta - Berjalan dari Jantar Mantar menuju Connaught Place di pusat New Delhi pada Sabtu (25/07) sore menghadirkan pemandangan tak biasa. Poster-poster satire yang menyindir lembaga legislatif, eksekutif, hingga yudikatif India menempel di berbagai sudut. Di trotoar, coretan grafiti yang sebagian dianggap 'kasar' menyasar langsung Perdana Menteri Narendra Modi. Semua itu adalah sisa-sisa aksi ribuan anak muda dari gerakan 'kecoak' yang sebelumnya memenuhi jalanan, beberapa jam setelah Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri. Pengunduran diri Pradhan disambut perayaan meriah oleh demonstran karena menjadi salah satu tuntutan utama.
Di Instagram, suasana serupa terlihat di berbagai kota. Anak-anak muda terlihat menari di depan polisi dengan iringan lagu viral, sementara sebagian lainnya membawa poster-poster 'nyeleneh' dan memanjat barikade. Gen Z India benar-benar mengguncang pemerintah dengan kreativitas dan keberanian mereka.
Apa yang Mendorong Gerakan 'Kecoak'?
Gerakan yang dikenal sebagai Cockroach Janta Party (CJP) berawal dari komentar pejabat tinggi yang menyebut anak muda pengangguran sebagai 'kecoak.' Nama itu kemudian dipelintir menjadi sindiran terhadap partai berkuasa, Bharatiya Janata Party (BJP). Sejak skandal ujian masuk perguruan tinggi mencuat pada Mei 2026, protes Gen Z menyebar ke berbagai wilayah. Mereka menantang elite politik lewat berbagai media sosial seperti reels Instagram, tren viral, jingle satir, hingga poster-poster kreatif.
'Di generasi kami, humor jadi cara untuk menghadapi rasa frustrasi dan ketidakberdayaan,' kata Karan Azad, mahasiswa hukum berusia 24 tahun, kepada DW. 'Protes ini digerakkan oleh humor dan media sosial.' Seorang demonstran perempuan bahkan membawa poster yang menyindir Modi dengan kalimat santai bernada mengejek bertuliskan 'kawan, Anda bahkan tidak bisa membuat secangkir teh.' Ia juga mengatakan, 'saya harus ambil bagian. Kami ini anak muda, kalau bukan kami yang bergerak, siapa lagi?'
Sementara itu, Tushar (24) mengaku tidak takut terhadap kemungkinan tekanan dari aparat. Justru, ia mengaku takut ketinggalan momen: 'bisa FOMO kalau enggak ikut turun ke jalan.' Ridhima (17) menambahkan, 'kalau bukan kita, siapa lagi? Mereka yang tidak datang ke sini justru menunjukkan siapa yang pengecut, seperti orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan.'
Menarik Perhatian lewat Humor Politik
Kreator konten Arun Singh, yang dikenal lewat akun 'TheJhumroo', menilai budaya meme berperan besar menjaga energi protes tetap hidup. 'Budaya meme yang memicu emosi ini. Generasi sekarang memang kerap menggunakan bahasa meme, itu cara mereka berkomunikasi,' ujarnya. Ia menggambarkan para demonstran muda ini sebagai generasi yang 'nyaris tanpa rasa takut.' 'Mereka tidak takut pada siapa pun, tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain. Itulah yang membuat mereka berani,' tambahnya.
Komika asal Mumbai, Aditi Mittal, melihat keberanian para demonstran Gen Z ini tak lepas dari kehidupan mereka di dunia yang 'serba terlihat.' 'Minimal mereka punya 500 pengikut. Jadi kalau mereka unggah sesuatu di story, hampir pasti tidak akan diabaikan,' ujarnya kepada DW. Mittal juga menilai bahwa Gen Z di India seolah 'mewarisi bentuk protes yang paling pas.' 'Generasi sebelum kami fokus pada perbaikan infrastruktur. Sementara kami, kaum milenial, tumbuh dengan aspirasi menciptakan dunia yang lebih setara, di tengah realitas seperti diskriminasi terhadap Muslim. Kami besar dalam situasi itu dan sering 'diyakinkan' bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tidak. Kami juga cenderung terlalu menahan diri,' ujarnya. 'Gen Z justru mewarisi bentuk protes yang paling tepat. Isu pendidikan melampaui sekat agama dan sekularisme. Ini mudah mendapat resonansi, apalagi di negara seperti India, di mana pendidikan sering menjadi jalan keluar dari keterbatasan sosial maupun ekonomi.'
Mittal juga menyoroti perbedaan antara situasi sekarang dengan gelombang protes UU kewarganegaraan (CAA) pada 2019. 'Dalam aksi anti-CAA, demonstran seolah dituntut untuk selalu 'sempurna'. Tetap sopan pada aparat, bahkan saat dipukul atau diancam, itu semacam standar yang dilekatkan pada kami saat itu,' ujarnya. 'Anak-anak muda sekarang berbeda. Mereka tidak menunggu atau berusaha keras terlihat sempurna.'
Menggugat Citra Pemimpin
Satire bukan hal baru dalam politik India. Sejak dulu, karikatur sudah digunakan sebagai medium untuk menyalurkan kemarahan terhadap kolonialisme, terutama di Bengal. Kartunis politik seperti Abu Abraham dan R.K. Laxman juga pernah menantang sensor ketat pada masa Perdana Menteri Indira Gandhi, khususnya saat status darurat diberlakukan pada 1975–1977 yang membatasi kebebasan sipil.
'Satire itu cara yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan. Ibarat makanan sehat yang diolah dengan cara menarik, jadi lebih mudah dinikmati. Humor punya daya jangkau yang lebih kuat, lebih gampang menarik perhatian,' kata kreator konten Singh kepada DW. Penulis Ananya Vajpeyi menilai humor juga membantu membangun simpati publik dan membuat suasana protes terasa ringan. 'Para demonstran ini terlihat tidak mengancam, hanya anak muda dengan poster lucu. Ketika respons aparat terlalu keras, justru berbalik merugikan mereka sendiri,' ujarnya.
Perdana Menteri Narendra Modi selama ini dikenal sangat menjaga citra publiknya. Namun kali ini, para demonstran secara langsung menantang citra tersebut lewat ejekan dan satire. 'Sejak aksi penolakan CAA dibubarkan, suasana terasa semakin tertekan. Orang-orang bisa mendapat konsekuensi hanya karena menyuarakan kritik. Lalu sekarang muncul ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru negeri, seperti 'kecoak' yang keluar dari persembunyian dan membuat kekuasaan Modi kewalahan,' ujar Vajpeyi kepada DW. Ia menilai kemarahan publik ini kemungkinan besar menimbulkan 'rasa malu' bagi Modi sebagai pemimpin. 'Apa yang disuarakan anak-anak muda ini seperti pukulan telak bagi Modi, kalau ia melihatnya langsung. Bisa jadi orang-orang di sekitarnya mencoba menjauhkan dia dari hal itu, tapi pihak oposisi jelas melihatnya. Masyarakat luas, terutama yang aktif di media sosial, juga menyaksikannya,' pungkasnya.



