Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Ancam Stabilitas Ekonomi Global
Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., memberikan peringatan serius mengenai dampak potensial dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menurutnya, eskalasi konflik ini berisiko tinggi mengganggu stabilitas ekonomi global yang sedang dalam proses pemulihan.
Pemulihan Ekonomi Global yang Rentan
Anton menjelaskan bahwa situasi ini muncul pada momen yang sangat kritis. Ekonomi global sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang positif di awal tahun 2026. "Sebenarnya awal tahun ini pertumbuhan ekonomi global angkanya mulai membaik dibanding 2025. Baik dari perkiraan Bank Dunia maupun IMF (International Monetary Fund)," ujarnya dalam keterangan yang diberikan pada Selasa, 3 Maret 2026.
Dia menekankan bahwa indikator dari lembaga keuangan internasional tersebut memberikan sinyal optimis, namun konflik geopolitik dapat dengan mudah membalikkan tren ini. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan kekuatan besar seperti AS dan Israel dengan Iran, sering kali menciptakan gejolak di pasar keuangan dunia, mempengaruhi harga komoditas, dan mengganggu rantai pasokan global.
Dampak Ganda bagi Ekonomi Indonesia
Lebih lanjut, Anton menyoroti implikasi spesifik bagi Indonesia. Bagi ekonomi Indonesia sendiri, Anton menyebutkan ada dua potensi pukulan sekaligus. Pertama, gangguan pada stabilitas ekonomi global dapat mempengaruhi ekspor dan investasi asing ke Indonesia, yang sangat bergantung pada kondisi ekonomi dunia. Kedua, fluktuasi harga minyak dan komoditas lainnya akibat konflik dapat meningkatkan tekanan inflasi dan biaya produksi di dalam negeri.
Dia mengingatkan bahwa Indonesia, sebagai bagian dari ekonomi global yang terintegrasi, tidak akan kebal dari efek domino ketidakstabilan ini. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu bersiap dengan strategi mitigasi untuk menghadapi kemungkinan guncangan eksternal ini.
Peringatan dari akademisi UMS ini menggarisbawahi pentingnya diplomasi dan resolusi damai dalam konflik internasional untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi yang masih rapuh. Tanpa stabilitas geopolitik, upaya pemulihan ekonomi global pasca-tantangan sebelumnya bisa terhambat secara signifikan.
